PT Nusa Palapa Gemilang Tbk (NPGF), produsen pupuk majemuk berbasis di Gresik, menyampaikan koreksi laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan perusahaan naik dari Rp131,89 miliar menjadi Rp241,72 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara laba bersih naik dari Rp4,04 miliar menjadi Rp4,51 miliar, dengan laba per saham naik dari Rp1,25 menjadi Rp1,39. Laporan ini juga memuat surat penjelasan resmi kepada OJK dan BEI karena total aset dan liabilitas perusahaan berubah lebih dari 20 persen dibanding akhir 2025, sehingga wajib dijelaskan sebabnya sesuai aturan bursa.
Total aset NPGF naik 31,5 persen menjadi Rp482,19 miliar, terutama didorong oleh piutang usaha pihak ketiga yang naik dari Rp159,32 miliar menjadi Rp215,66 miliar lewat pemanfaatan fasilitas Supply Chain Financing, yaitu skema pembiayaan piutang dari PT Bank Sinarmas Tbk, serta persediaan yang naik dari Rp84,28 miliar menjadi Rp169,07 miliar sebagai langkah mengantisipasi gejolak harga bahan baku. Di sisi lain, total liabilitas melonjak 87,9 persen menjadi Rp239,64 miliar, terutama karena penambahan fasilitas pinjaman bank jangka pendek dari Bank Sinarmas dengan plafon Rp213,02 miliar, ditambah utang usaha yang melompat dari Rp2,64 miliar menjadi Rp32,12 miliar.
Kas dan setara kas perusahaan justru menyusut dari Rp13,62 miliar menjadi Rp4,06 miliar pada akhir September 2026. Arus kas dari aktivitas operasional tercatat negatif Rp88,54 miliar, melebar jauh dari negatif Rp5,31 miliar pada periode yang sama tahun lalu, akibat pembayaran ke pemasok yang mencapai Rp255,60 miliar. Untuk menutup kebutuhan kas tersebut, perusahaan menarik tambahan pinjaman bank bersih Rp82,72 miliar dan tetap membayarkan dividen Rp972,04 juta kepada pemegang saham. Beban keuangan alias beban bunga ikut naik dari Rp4,86 miliar menjadi Rp9,62 miliar seiring membesarnya utang bank. Laporan ditandatangani Direktur Utama Ujang Suparman dan Direktur Prim Galawira Atmaja pada 30 Oktober 2026.
