PT Putra Rajawali Kencana Tbk (PURA) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan neto naik 6,8 persen menjadi Rp306,47 miliar dari Rp286,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih melonjak 86 persen, dari Rp4,37 miliar menjadi Rp8,16 miliar, sehingga laba per saham naik dari Rp0,69 menjadi Rp1,29. Beban bunga ikut turun dari Rp14,87 miliar menjadi Rp9,20 miliar, yang ikut mendorong laba.

Di balik kenaikan laba itu, kas dan bank perusahaan justru menyusut drastis dari Rp21,81 miliar pada akhir 2025 menjadi hanya Rp914,76 juta pada akhir September 2026. Penyebabnya, arus kas dari aktivitas operasi berbalik menjadi negatif Rp31,34 miliar, dari sebelumnya positif Rp22,44 miliar. Uang kas yang benar-benar diterima dari pelanggan pun turun, dari Rp271,44 miliar menjadi Rp232,14 miliar, meski pendapatan di atas kertas naik. Dalam surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia yang ditandatangani Direktur Utama Ariel Wibisono tanggal 31 Oktober 2026, perseroan mengungkapkan piutang usaha pihak ketiga naik Rp74,33 miliar atau 42,99 persen menjadi Rp247,22 miliar, yang menurut perseroan merupakan hasil kegiatan operasional. Persediaan suku cadang juga naik 354,78 persen, meski nilainya kecil, dari Rp139,93 juta menjadi Rp636,35 juta.

Di sisi liabilitas, utang usaha kepada pemasok pihak ketiga turun 28,58 persen atau Rp98,46 juta menjadi Rp246,07 juta karena perseroan melunasi pembayaran ke pemasok. Sebaliknya, perseroan menambah utang pembiayaan baru senilai total Rp8,54 miliar, naik 100 persen dari nol, berupa fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan non-bank sesuai Catatan 13 laporan keuangan. Utang bank jangka pendek naik tipis menjadi Rp103,5 miliar dari Rp101 miliar. Jumlah ekuitas naik menjadi Rp518,11 miliar dari Rp509,95 miliar, dengan jumlah saham beredar tetap 6,30 miliar lembar tanpa penambahan saham baru.