PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS), perusahaan pengolahan dan perdagangan minyak kopra yang berbasis di Mojokerto, Jawa Timur, membukukan penjualan Rp1,1 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 46 persen dibandingkan Rp753,58 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp68,55 miliar dari Rp31,53 miliar, sehingga marjin laba bruto terangkat dari 4,2 persen menjadi 6,2 persen dari penjualan. Laba bersih periode berjalan melonjak hampir empat kali lipat menjadi Rp23,74 miliar dari Rp6,32 miliar, dengan Rp22,33 miliar di antaranya menjadi bagian pemegang saham induk dan sisanya Rp1,41 miliar menjadi bagian pemegang saham minoritas di anak usaha.
Kenaikan penjualan ini diikuti pembengkakan sejumlah pos neraca. Piutang usaha dari pihak ketiga melonjak menjadi Rp64,53 miliar dari Rp27,50 miliar, persediaan naik menjadi Rp193,86 miliar dari Rp146,01 miliar, dan total aset Perseroan naik 40,8 persen menjadi Rp365,06 miliar dari Rp259,38 miliar. Di sisi liabilitas, utang usaha kepada pihak ketiga melonjak menjadi Rp90,63 miliar dari Rp35,98 miliar dan utang bank jangka pendek naik menjadi Rp113,43 miliar dari Rp99,20 miliar, sehingga total liabilitas jangka pendek naik 53,8 persen menjadi Rp223,46 miliar. Karena perubahan aset dan liabilitas ini melewati ambang 20 persen, Perseroan mengirim surat penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia tertanggal 26 Oktober 2026, yang menyebut kenaikan aset terutama berasal dari penumpukan persediaan dan piutang usaha atas transaksi penjualan kuartal berjalan, sementara kenaikan liabilitas jangka pendek berasal dari utang usaha untuk pembelian persediaan guna mendukung operasional perusahaan.
Di sisi arus kas, kas dan setara kas Perseroan turun menjadi Rp3,91 miliar dari Rp9,27 miliar di awal tahun. Arus kas dari aktivitas operasi masih minus Rp1,44 miliar, meski membaik dibandingkan minus Rp12,31 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sementara aktivitas investasi menyerap Rp14,41 miliar, terutama untuk pembelian aset tetap senilai Rp11,89 miliar. Beban bunga dan keuangan naik lebih dari empat kali lipat menjadi Rp6,71 miliar dari Rp1,61 miliar, sejalan dengan tambahan pinjaman bank baru Rp92,44 miliar sepanjang periode berjalan. Jumlah ekuitas Perseroan naik menjadi Rp125,57 miliar dari Rp98,34 miliar, termasuk kepentingan non-pengendali senilai Rp5,62 miliar dari konsolidasi dua anak usaha, yaitu PT Indosena Perkasa Refineries di Surabaya dengan kepemilikan 51 persen yang masih beroperasi, dan PT Indo Kelapa Perkasa di Gresik dengan kepemilikan 55 persen yang menurut dokumen ini sudah tidak lagi menjalankan operasional.
