PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk (PDES), operator jasa perjalanan wisata yang menaungi jaringan agen Panorama, menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan pada 30 Oktober 2026. Pendapatan konsolidasian perusahaan naik 7,5 persen menjadi Rp411,96 miliar, dari Rp383,03 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk justru turun 4 persen menjadi Rp19,77 miliar, dari Rp20,60 miliar, karena beban penjualan serta beban umum dan administrasi naik lebih cepat dibanding laba kotor yang nyaris tidak bergerak dari Rp84,13 miliar menjadi Rp84,72 miliar.

Di sisi lain, beban bunga dan biaya pinjaman perusahaan turun tajam dari Rp18,60 miliar menjadi Rp7,89 miliar, atau turun 57,6 persen dibanding tahun sebelumnya. Kas dan simpanan di bank juga melonjak dari Rp32,25 miliar menjadi Rp87,67 miliar per akhir September 2026, ditambah deposito berjangka yang dibatasi penggunaannya senilai Rp15,31 miliar yang sebelumnya tidak ada. Total ekuitas perusahaan naik 12,9 persen menjadi Rp125,95 miliar, sementara total aset bertambah 8,9 persen menjadi Rp344,21 miliar. Sepanjang sembilan bulan ini, PDES membagikan dividen tunai Rp715 juta kepada pemegang saham induk, sementara entitas anak usahanya membagikan dividen Rp11,77 miliar kepada pemegang saham minoritas di tingkat anak usaha, yang membuat porsi ekuitas milik pihak non pengendali turun dari Rp13,94 miliar menjadi Rp8,53 miliar.

Laporan ini juga memuat daftar delapan entitas anak PDES yang bergerak di jasa perjalanan wisata dan biro perjalanan, antara lain Panorama Destination di Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura, PT Destinasi Garuda Wisata di Yogyakarta, serta PT Panorama Destinasi Indonesia dan PT Destinasi Alam Indonesia di Jakarta, dengan porsi kepemilikan PDES berkisar dari 49 persen hingga 100 persen.