PT Penta Valent Tbk (PEVE) menyampaikan tanggapan resmi atas daftar pertanyaan Bursa Efek Indonesia terkait laporan keuangan per 30 Juni 2026. Salah satu sorotan bursa adalah tiga entitas anak, yaitu PT Mega Depo Gemilang (kepemilikan 99,95 persen), PT Natural Organik Bahagia (70 persen), dan PT Probylab Sehat Indonesia (51 persen), yang bersama-sama hanya menyumbang aset Rp7,38 miliar atau 0,51 persen dari total aset konsolidasian, namun membukukan rugi sebelum pajak Rp1,62 miliar pada semester I 2026. Secara rinci, Mega Depo Gemilang merugi Rp87,87 juta dari pendapatan Rp1,48 miliar, Natural Organik Bahagia merugi Rp835,99 juta dari pendapatan Rp277,71 juta, dan Probylab Sehat Indonesia merugi Rp691,40 juta dari pendapatan Rp1,35 miliar. Akibatnya, kepentingan non-pengendali turun Rp589,63 juta atau 54,79 persen menjadi Rp486,48 miliar. Manajemen menyatakan belum ada rencana suntikan modal eksternal maupun penghentian usaha bagi ketiga anak perusahaan tersebut.
Di sisi arus kas, perusahaan mencatat arus kas operasi negatif Rp99,44 miliar pada semester I 2026, membaik dibandingkan minus Rp154,42 miliar pada periode sama tahun lalu, namun tetap ditutup dengan penarikan utang bank neto Rp94,05 miliar. Kas dan setara kas turun Rp5,66 miliar atau 42,94 persen menjadi hanya Rp7,52 miliar, setara 0,52 persen dari total aset dan hanya 0,73 persen dari liabilitas jangka pendek Rp1,03 triliun yang mencakup utang bank Rp420,66 miliar dan utang usaha Rp605,84 miliar. Manajemen menjelaskan penyebabnya adalah maraknya penjualan kredit ke rumah sakit pemerintah yang menunggu pencairan anggaran, tercermin dari days sales outstanding 66,14 hari, jauh di atas target kredit 40 hari yang ditetapkan perusahaan sendiri. Dari piutang usaha bruto Rp675,17 miliar, sebesar Rp231,58 miliar atau 34,30 persen sudah lewat jatuh tempo, dengan Rp40,43 miliar di antaranya menunggak lebih dari 90 hari, sementara cadangan kerugian kredit yang dibentuk hanya Rp9,50 miliar. Perusahaan melaporkan realisasi penagihan piutang sejak 30 Juni sampai 31 Agustus 2026 sebesar Rp26,12 miliar atau 43,18 persen dari piutang yang dimaksud.
Perusahaan juga mengakui adanya kesalahan penyajian di beberapa pos laporan keuangan interim yang akan diperbaiki pada laporan berikutnya. Di antaranya, perolehan aset tetap secara kas seharusnya tercatat minus Rp208,62 juta bukan Rp152,49 juta, total liabilitas sewa seharusnya Rp2,51 miliar (jangka pendek Rp2,32 miliar dan jangka panjang Rp192,94 juta), pembayaran liabilitas sewa seharusnya tercatat sebagai arus kas keluar Rp236,11 juta bukan arus kas masuk Rp2,28 miliar, serta perolehan aset hak-guna seharusnya Rp1,72 miliar bukan Rp2,52 miliar. Selain itu, piutang lain-lain berupa klaim ke pemasok naik 29,38 persen menjadi Rp122,96 miliar tanpa dibentuk cadangan kerugian, dengan realisasi penerimaan sampai 31 Agustus 2026 mencapai Rp86,41 miliar atau 70,47 persen dari saldo tersebut. Perusahaan turut mengungkap bahwa persediaan dan piutang usaha senilai Rp600 miliar telah diikat sebagai jaminan fidusia kepada bank.
