PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO), yang sebelumnya bernama PT Tourindo Guide Indonesia Tbk, menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang telah diaudit untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia. Auditor KAP Mirawati Sensi Idris memberikan opini wajar tanpa modifikasian atas laporan ini. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp144,71 miliar pada semester pertama 2026, melonjak drastis dari Rp314,74 juta pada periode yang sama tahun lalu, dan mencatat laba bersih Rp4,69 miliar, berbalik dari rugi Rp1,93 miliar pada semester I 2025. Laba per saham dasar tercatat Rp5,89, dibandingkan rugi Rp2,43 per saham setahun sebelumnya.

Total aset Perseroan melonjak 394,20 persen menjadi Rp150,22 miliar per 30 Juni 2026, dari Rp30,40 miliar per akhir 2025. Total liabilitas juga naik 355,19 persen menjadi Rp147,47 miliar. Dalam surat penjelasan kepada bursa, manajemen menyebut kenaikan aset terutama berasal dari kas dan bank yang naik menjadi Rp53,74 miliar, uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp32,41 miliar, dan piutang usaha pihak ketiga yang naik menjadi Rp43,88 miliar. Kenaikan liabilitas terutama berasal dari utang lain-lain jangka panjang kepada pihak berelasi yang mencapai Rp88,11 miliar, dari sebelumnya tidak ada, serta utang usaha pihak ketiga yang naik menjadi Rp43,84 miliar. Dengan tambahan laba periode berjalan, ekuitas Perseroan berbalik dari defisiensi modal minus Rp2,00 miliar per akhir 2025 menjadi ekuitas positif Rp2,75 miliar per 30 Juni 2026.

Transformasi bisnis Perseroan tercermin dari daftar entitas anak yang dilaporkan. PT Pigijo Travelindo Sakti, bisnis agen perjalanan dan tur yang menjadi cikal bakal nama lama Perseroan, kini tercatat tanpa aset. Sebagai gantinya, Perseroan menguasai 99,999 persen PT Mega Mitra Marine, perusahaan manajemen logistik terpadu dengan aset Rp74,47 miliar, dan 99,999 persen PT Samudera Sejahtera Shipping, perusahaan angkutan laut untuk muatan umum, khusus, dan pelayaran perintis ke wilayah terpencil, dengan aset Rp73,95 miliar. Perseroan juga menguasai 99,999 persen PT Panca Pertiwi Tambang, kontraktor pertambangan nikel, batu bara, emas, dan mineral lain, dengan aset Rp2,78 miliar. Tiga entitas anak lain, yaitu PT Niaga Batu Raya dan PT Niaga Nikel Raya, masing-masing dengan kepemilikan 99,99 persen, serta PT Bahana Enegi Persada dengan kepemilikan 99,996 persen, tercatat belum beroperasi. Laporan laba rugi turut mencatat keuntungan Rp3,45 miliar dari penjualan salah satu entitas anak pada periode ini.