PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia. Surat pernyataan direksi ditandatangani Direktur Utama Bratha dan Direktur Shandra Noraya Laksmi pada 28 Oktober 2026, menyatakan laporan telah disusun secara lengkap dan benar sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.
Laba bersih perseroan untuk sembilan bulan 2026 tercatat Rp73,38 miliar, naik 69,8 persen dibandingkan Rp43,22 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Kenaikan ini antara lain didorong oleh pendapatan bagi hasil dari pembiayaan musyarakah yang naik dari Rp590,38 miliar menjadi Rp696,93 miliar. Namun jumlah penghasilan komprehensif justru berbalik menjadi rugi Rp7,77 miliar, dari sebelumnya untung Rp77,24 miliar, karena ada kerugian belum terealisasi senilai Rp81,15 miliar akibat perubahan nilai wajar surat berharga yang dipegang bank. Laba per saham dasar dan dilusian naik menjadi Rp1,89, dari Rp1,11 pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi posisi keuangan, total aset bank naik 2,8 persen menjadi Rp19,65 triliun per 30 September 2026, dari Rp19,12 triliun pada akhir 2025. Pembiayaan musyarakah, pos terbesar bank, bertambah dari sekitar Rp11,69 triliun menjadi Rp12,87 triliun, sementara pembiayaan mudharabah justru turun sekitar 37,5 persen menjadi sekitar Rp1 triliun karena pelunasan oleh beberapa nasabah korporasi. Penempatan pada Bank Indonesia turun sekitar 64,3 persen menjadi Rp452,47 miliar menyusul jatuh temponya Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah. Rasio kewajiban penyediaan modal minimum bank turun dari 19,11 persen pada September 2025 menjadi 16,61 persen pada September 2026, seiring naiknya aset tertimbang menurut risiko dari Rp12,77 triliun menjadi Rp14,72 triliun akibat ekspansi pembiayaan. Rasio itu masih jauh di atas batas minimum yang disyaratkan OJK sesuai profil risiko bank, yaitu 9,37 persen.
Arus kas dari aktivitas operasi mencatat kas keluar bersih Rp917,98 miliar pada sembilan bulan 2026, jauh lebih besar dari Rp129,75 miliar pada periode yang sama tahun lalu, terutama karena penyaluran pembiayaan musyarakah baru senilai Rp1,18 triliun. Akibatnya, saldo kas dan setara kas akhir periode turun menjadi Rp493,93 miliar, dari Rp1,42 triliun di awal tahun. Dalam laporan ini juga disebutkan pemegang saham pengendali bank tetap PT Bank Pan Indonesia Tbk dengan 67,30 persen saham, disusul Pemerintah Dubai, Uni Emirat Arab, melalui Dubai Islamic Bank PJSC dengan 25,10 persen, dan publik 7,60 persen.
