Prabowo: RI Kehilangan Hampir 50% Nilai Ekspor Sawit
Prabowo soroti selisih harga CPO Indonesia dan Rotterdam, sebut RI kehilangan hampir separuh nilai ekspor sawitnya.
14 Agustus 2026Dirangkum dari tvOneNews
Ilustrasi AI
Arahnya ke mana
Yang berubah bukan cuma soal harga sawit yang disorot Prabowo, melainkan mekanisme baru pengawasan uang hasil ekspor lewat Danantara Sumberdaya Indonesia, yang dalam dua bulan lebih memantau 6.500 transaksi ekspor tiga komoditas senilai US$14 miliar dan menemukan potensi tambahan pemasukan US$5 miliar dari selisih harga, kualitas, dan pembayaran. Yang terdampak langsung adalah eksportir komoditas strategis seperti sawit, karena transaksi mereka kini diperiksa lebih ketat sebelum dan sesudah pengapalan, dan ke depan pelaku usaha di 50 pelabuhan serta 25 provinsi juga akan masuk radar yang sama. Polanya mengarah ke perluasan pengawasan devisa ekspor secara bertahap, dari tiga komoditas menuju seluruh komoditas strategis, ketimbang aturan yang langsung berlaku menyeluruh sekali jalan. Yang akan memastikan arah ini benar-benar berjalan adalah apakah perluasan ke 50 pelabuhan itu terealisasi dan berapa besar dari temuan US$5 miliar itu yang benar-benar berhasil ditagih ke kas negara.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti selisih besar antara harga jual minyak sawit mentah (CPO) dari Indonesia dengan harga yang terbentuk di pasar internasional, dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR RI di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Ia menyebut kondisi ini membuat Indonesia kehilangan sebagian besar nilai ekonomi dari komoditas andalannya sendiri, meski negara pembanding seperti Belanda sama sekali tidak memiliki kebun sawit.
Menurut Prabowo, CPO Indonesia sebelumnya dijual di pelabuhan dalam negeri dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara harga yang terbentuk di bursa CPO Rotterdam, Belanda, mencapai Rp27.000 per kilogram. Selisih itu, kata dia, membuat Indonesia kehilangan hampir separuh nilai ekonomi dari komoditas sawitnya sendiri hanya karena harga acuan ditentukan di pasar luar negeri.
Angka BPSNilai ekspor
25,5 miliar US$Juni 2026
Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 2,26 miliar US$ dibanding Mei 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (23.835,5).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.
Untuk mengatasi kebocoran nilai tersebut, pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), lembaga yang mulai beroperasi sejak 1 Juni 2026 untuk memperkuat pengelolaan dan pengawasan uang hasil ekspor komoditas strategis. Dalam dua bulan 13 hari sejak beroperasi, DSI telah memantau lebih dari 6.500 transaksi ekspor dari tiga komoditas strategis senilai total US$14 miliar, dan menemukan potensi tambahan pemasukan sebesar US$5 miliar dari penyesuaian harga, kualitas, serta pembayaran devisa hasil ekspor.
Prabowo menyampaikan pengawasan DSI ke depan akan diperluas hingga mencakup 50 pelabuhan di 25 provinsi, dengan target akhir seluruh komoditas ekspor strategis masuk dalam pengawasan lembaga tersebut, tidak lagi terbatas pada tiga komoditas yang dipantau saat ini. Ia menegaskan penguatan pengawasan ini bertujuan memastikan kekayaan alam Indonesia memberi manfaat lebih besar bagi negara dan masyarakat, bukan dinikmati pihak tertentu di dalam maupun luar negeri.
Mau tahu arahnya, bukan cuma beritanya?Tiap malam hari kerja, satu tulisan yang menjawab ke mana ekonomi bergerak hari itu dan apa yang akan menentukan arahnya. Plus angka pembanding yang tidak ada di situs. Gratis.
Signal+
Ke mana ekonomi bergerak hari ini, dan apa artinya buat keputusanmu besok.
Dikirim tiap malam hari kerja setelah seluruh berita hari itu dibaca.
Formulir pendaftarannya membutuhkan
JavaScript; kalau tidak muncul, daftar langsung lewat halaman Buttondown
kami.