PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) menggelar Public Expose Tahunan pada Senin, 7 September 2026 pukul 16.00 sampai 17.00 WIB melalui platform Public Expose Live 2026 milik Bursa Efek Indonesia. Paparan disampaikan oleh Una Lindasari, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, dan Turino Yulianto, Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk, dengan moderator Prasetyo Wibowo dari IDX Channel. Acara dihadiri 210 peserta yang terdiri dari perusahaan sekuritas, manajer aset, media, dan investor ritel, sementara sesi konferensi pers dihadiri 116 wartawan.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkapkan produksi batu bara semester I 2026 mencapai 19,45 juta ton dari target RKAP setahun penuh sebesar 49,5 juta ton, dan menyatakan tetap optimistis mengejar target tersebut dengan mengandalkan perbaikan cuaca pada semester II. Target produksi untuk RKAB 2027 masih dalam kajian internal namun diperkirakan tidak jauh berbeda dari target 2026. Laba bersih semester I 2026 melonjak sekitar 218 persen menjadi Rp2,64 triliun, jauh melampaui pertumbuhan pendapatan yang hanya sekitar 8 persen. Manajemen menjelaskan kenaikan itu ditopang oleh naiknya harga batu bara, pelemahan rupiah yang menguntungkan pendapatan berdenominasi rupiah, dan perbaikan biaya angkutan berkat perubahan formula kontrak transportasi 2026, meski biaya bahan bakar justru menjadi komponen biaya yang paling meningkat. Soal peluang laba bersih setahun penuh menembus Rp5 triliun, manajemen menyebut hal itu bergantung pada stabilnya rata-rata harga jual, biaya bahan bakar, dan pola cuaca yang memengaruhi volume produksi.
Terkait proyek Kramasan, manajemen menjelaskan proyek ini terdiri dari dua bagian, yaitu infrastruktur TLS 6 dan 7 yang dikerjakan PTBA sendiri dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 sesuai rencana, serta Dermaga Kramasan yang pembangunannya berada di pihak KAI dan Kalog. Pengembangan dermaga tersebut mengalami sedikit keterlambatan dan sudah disampaikan secara resmi kepada PTBA, sehingga turut memengaruhi keseluruhan jadwal operasional Kramasan yang sebelumnya ditargetkan mencapai status siap operasi pada kuartal II 2026.
Pada bagian strategi, manajemen menegaskan batu bara tetap jadi bisnis inti sambil mengembangkan hilirisasi seperti coal to potassium humate, serta dua proyek yang masuk ekosistem Danantara, yakni penyediaan pembangkit listrik tenaga uap untuk smelter aluminium dan pengembangan anoda baterai berbahan karbon dari batu bara untuk rantai pasok kendaraan listrik. Perseroan telah mengalokasikan 842 juta ton cadangan untuk kebutuhan hilirisasi, mengingat umur proyek rata-rata sekitar 20 tahun sehingga pasokan batu bara harus dijamin sepanjang periode itu, dengan dukungan pendanaan dari Danantara Management Fund. Kontribusi bisnis hijau terhadap portofolio Perseroan masih di bawah 3 persen dan roadmap-nya masih disusun. Untuk pasar ekspor baru di Pakistan, risiko pembayaran dan nilai tukar dimitigasi melalui skema Letter of Credit dengan transaksi dalam dolar Amerika Serikat.
