PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) menyampaikan tanggapan lanjutan kepada Bursa Efek Indonesia lewat surat bernomor 022/RPI/CORSEC/IX/2026 tertanggal 9 September 2026, menjawab surat bursa S-11390/BEI.PP2/09-2026. Perusahaan merinci lima pelanggan terbesarnya per 30 Juni 2026, semuanya bukan pihak afiliasi: PT Wework Services International dengan penjualan Rp6,58 miliar dan kontrak Juli 2019 hingga Juni 2029, PT May Sun Yvan Rp5,83 miliar dengan kontrak September 2023 hingga Februari 2028, PT Tri Sakti Purwosari Makmur Rp4,83 miliar dengan kontrak sejak April 2023, PT ITG Pointer Resources Indonesia Rp2,95 miliar dengan kontrak Februari 2024 hingga Januari 2029, dan PT Kuehne Nagel Indonesia Rp2,87 miliar dengan kontrak Desember 2021 hingga Desember 2029. Satu pelanggan yang masuk lima besar per akhir 2025, PT Citra Angsana Perkasa dengan penjualan Rp5,41 miliar, sudah tidak lagi berikatan dengan Perseroan sejak kontraknya berakhir pada April 2026.
Perusahaan juga menjelaskan kenaikan tingkat okupansi propertinya dari 66,05 persen pada 2024 menjadi 74,66 persen pada 2025, yang menurut manajemen berasal dari upaya mempertahankan tenant lama sekaligus menggaet tenant baru. Untuk dua proyek besarnya, Azerai di Bali dan International Exchange House di Jakarta Selatan, Perseroan mengonfirmasi bahwa keduanya masih berada di tahap evaluasi konsep dan strategi pengembangan, tanpa jadwal pembangunan dan penyelesaian yang definitif. Progres pekerjaan fisik hingga akhir 2024 baru mencapai 4,17 persen untuk Azerai, yaitu pekerjaan persiapan, jasa keamanan dan kebersihan, serta pembongkaran infrastruktur rusak, dan 13,37 persen untuk International Exchange House, meliputi pekerjaan persiapan, pembangunan kantor operasional pemasaran, dan pekerjaan sipil di bawah tanah. Perseroan menyatakan tidak memiliki proyek pipeline baru lain di luar keduanya dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Sumber dana untuk pengembangan kedua proyek itu, menurut Perseroan, akan berasal dari kombinasi pinjaman lembaga perbankan, pihak ketiga, dan kas internal perusahaan, namun belum ada kepastian skema maupun jumlahnya. Lahan Proyek Azerai diperoleh lewat PT Knightsbridge Luxury Development pada 2011, sementara lahan International Exchange House diperoleh lewat PT Artha Mas Investama pada 2003. Untuk pos tanah dalam pengembangan lainnya, Perseroan menyatakan aset itu sah dimiliki atau dikuasai oleh Perseroan dan entitas anak, tetapi waktu pengembangannya masih menunggu kajian kondisi pasar. Perseroan menegaskan tidak ada kejadian material lain yang berpotensi mempengaruhi harga saham atau kelangsungan usahanya.
