Nilai tukar rupiah melemah tipis ke posisi Rp17.697 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Pelemahan sebesar 3 poin atau 0,02 persen dari kurs sebelumnya di Rp17.694 ini terjadi setelah pasar mencerna dua laporan penting, yakni defisit transaksi berjalan kuartal II-2026 dan data pertumbuhan kredit perbankan Juli 2026.

Berdasarkan kurs referensi Jisdor Bank Indonesia, rupiah sempat berada di Rp17.705 per dolar AS pada Jumat, 21 Agustus 2026, atau menguat 74 poin dibandingkan Rp17.779 pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pergerakan ini menunjukkan rupiah relatif bertahan di kisaran Rp17.700-an dalam sepekan terakhir meski dibayangi sentimen dari sisi neraca eksternal.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, dalam riset hariannya menyebut pertumbuhan kredit perbankan Juli 2026 tetap solid di tengah dunia usaha yang justru mengurangi aktivitas peminjaman akibat ketidakpastian. Kredit tumbuh 13,58 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya, naik dari 12,67 persen pada Juni 2026. Pertumbuhan ini ditopang rasio kecukupan modal atau CAR perbankan yang tinggi di 23,70 persen dan rasio kredit bermasalah atau NPL yang terjaga rendah di 2,09 persen, serta kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang longgar.

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan defisit transaksi berjalan sebesar US$12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap produk domestik bruto pada kuartal II-2026, melebar signifikan dari defisit US$3,6 miliar atau 1,0 persen PDB pada kuartal sebelumnya. BI menyebut pelebaran ini dipengaruhi sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat sementara.