PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) menyampaikan tanggapan resmi atas surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia bernomor S-11441/BEI.PP2/09-2026 tertanggal 8 September 2026. Surat itu meminta penjelasan atas laporan keuangan tengah tahunan tidak diaudit Perseroan per 30 Juni 2026, menyusul penyampaian laporan tersebut pada 30 Juli 2026. Sesuai aturan Bursa, Perseroan wajib menjawab paling lambat dua hari bursa setelah surat diterima, dan tanggapan ini disampaikan Corporate Secretary Idaman Putri Erwin pada 10 September 2026, menjawab 15 kelompok pertanyaan yang mencakup strategi bisnis, kinerja keuangan, dan realisasi dana hasil penerbitan sukuk.
Pendapatan SMDR pada semester I 2026 naik 11,3 persen menjadi US$421,76 juta dari US$379,08 juta pada periode sama tahun lalu. Namun laba bruto hanya naik 3,1 persen menjadi US$74,82 juta, sehingga margin laba kotor turun dari sekitar 19,1 persen menjadi 17,7 persen, seiring kenaikan beban jasa 13,2 persen terutama pada bongkar muat, penyusutan, dan biaya keagenan. SMDR menjelaskan penurunan margin terutama dipicu kenaikan tarif biaya operasional pelayaran, dan perusahaan akan menjaga margin lewat optimalisasi utilisasi armada serta disiplin biaya. Dari sisi lini pendapatan, jasa angkutan tumbuh 11 persen, kegiatan keagenan dan pelabuhan tumbuh 20,4 persen, sewa kapal berbasis waktu (time charter) tumbuh 14 persen, sementara pendapatan jasa penanganan peti kemas turun 1,2 persen akibat penurunan volume.
Beban penyusutan yang masuk komponen biaya jasa melonjak 71 persen dari US$41,88 juta menjadi US$71,60 juta, terutama dari penyusutan aset hak guna atas kapal yang naik dari US$24,58 juta menjadi US$51,39 juta, meski nilai tercatat aset tetap Perseroan justru turun dari US$501,18 juta menjadi US$481,38 juta. SMDR mengaitkan kenaikan ini dengan penambahan kapal baru sepanjang 2026. Arus kas dari aktivitas investasi berbalik menjadi penggunaan kas bersih US$30,40 juta, dari sebelumnya penerimaan bersih US$5,27 juta, dipicu uang muka pembelian aset tetap yang melonjak menjadi US$17,66 juta dari US$2,03 juta, ditambah penambahan aset tetap US$18,89 juta yang menurut perusahaan akan didanai terutama dari kas internal. Aset hak guna sendiri turun menjadi US$214,42 juta dari US$225,94 juta meski ada penambahan US$40,15 juta yang sebagian besar berasal dari kapal dan tongkang senilai US$37,96 juta, dan pembayaran liabilitas sewa naik tajam menjadi US$47,96 juta dari US$22,41 juta.
Laba periode berjalan konsolidasian SMDR pada semester I 2026 hanya naik 0,8 persen menjadi US$44,16 juta dari US$43,80 juta. Laba yang menjadi bagian pemilik entitas induk justru naik 11 persen menjadi US$32,52 juta, sementara bagian kepentingan nonpengendali turun 19,8 persen menjadi US$11,63 juta, yang menurut SMDR disebabkan penurunan laba di anak usaha dengan porsi kepemilikan minoritas yang besar. Piutang usaha neto naik menjadi US$148,13 juta dari US$142,42 juta, dengan piutang yang telah lewat jatuh tempo lebih dari 180 hari naik menjadi US$11,15 juta, termasuk US$7,11 juta yang sudah lewat 365 hari, sementara cadangan kerugian kredit hanya naik tipis menjadi US$6,22 juta dari US$6,05 juta. Di entitas asosiasi, LNG East-West Shipping mencatat laba US$4,11 juta sedangkan PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT) masih merugi US$1,87 juta karena belum beroperasi penuh, dengan target mulai beroperasi awal 2027. Perseroan juga mencatat kerugian selisih kurs US$10,82 juta yang menekan total penghasilan komprehensif menjadi US$32,65 juta dari US$42,60 juta tahun lalu, di tengah kenaikan pinjaman jangka panjang menjadi US$207,32 juta dari US$192,57 juta plus penerbitan Sukuk Ijarah Tahap III senilai Rp700 miliar, yang turut mendorong beban keuangan naik 28,3 persen menjadi US$16,47 juta dari US$12,84 juta.
