PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menyampaikan laporan keuangan interim konsolidasian untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, tidak diaudit, kepada Bursa Efek Indonesia pada 30 Oktober 2026. Pendapatan neto perusahaan tercatat Rp6,28 triliun, turun 2,1 persen dari Rp6,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk merosot lebih dalam, 26,3 persen, dari Rp549,58 miliar menjadi Rp404,79 miliar. Laba per saham dasar ikut turun dari Rp33,29 menjadi Rp24,52 per saham.

Laba usaha turun dari Rp1,91 triliun menjadi Rp1,83 triliun, sementara beban bunga naik 12,8 persen dari Rp878,54 miliar menjadi Rp990,86 miliar, salah satu pemicu susutnya laba bersih. Porsi laba yang jatuh ke pemegang saham nonpengendali di anak-anak usaha yang tidak sepenuhnya dimiliki SMRA relatif stabil di Rp316,89 miliar, sehingga penurunan terasa lebih berat bagi pemegang saham induk perusahaan.

Di sisi posisi keuangan, total aset SMRA naik 11,9 persen menjadi Rp42,91 triliun per 30 September 2026 dari Rp38,34 triliun pada akhir 2025, didorong kas dan setara kas yang melonjak 43,5 persen menjadi Rp4,85 triliun. Struktur utang bank bergeser: utang bank jangka pendek turun 12,2 persen menjadi Rp6,76 triliun, sementara utang bank jangka panjang melonjak lebih dari dua kali lipat, dari Rp2,39 triliun menjadi Rp5,44 triliun. Total liabilitas naik 18 persen menjadi Rp26,35 triliun, sedangkan total ekuitas naik 3,5 persen menjadi Rp16,56 triliun dari Rp16,00 triliun pada akhir tahun lalu.