SMR Utama Tbk (SMRU) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Dalam laporan itu, total ekuitas perusahaan berbalik menjadi negatif Rp44,83 miliar, dari sebelumnya masih positif Rp888,3 juta pada akhir Desember 2025. Perubahan ini terjadi seiring pendapatan yang ambruk 98,6 persen, dari Rp59,79 miliar pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi hanya Rp824,9 juta pada periode yang sama tahun ini. Rugi bersih periode berjalan melebar dari Rp39,69 miliar menjadi Rp45,72 miliar, dengan rugi per saham dasar bertambah dari Rp3,18 menjadi Rp3,66.
Dari sisi posisi keuangan, kas dan setara kas perusahaan menyusut dari Rp5,51 miliar menjadi Rp2,42 miliar. Total aset lancar hanya Rp13,43 miliar, jauh lebih kecil dibanding liabilitas jangka pendek yang mencapai Rp637,37 miliar. Di antara liabilitas tersebut terdapat medium term notes senilai Rp379,05 miliar dan liabilitas jangka panjang atas utang bank yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp186,22 miliar, naik dari Rp173,21 miliar pada akhir 2025. Laporan ditandatangani oleh Direktur Utama Gani Bustan pada 30 Oktober 2026 sebagai pernyataan tanggung jawab direksi atas laporan keuangan.
SMRU saat ini masih tercatat di papan pemantauan khusus (watchlist) Bursa Efek Indonesia, dengan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) sebagai pengendali utama. Laporan juga merinci enam entitas anak yang dikonsolidasikan, dengan kepemilikan berkisar 98,72 persen hingga 99,99 persen. PT Adibrata Cipta Pertiwi, bergerak di bidang investasi dan mulai komersial pada 2025, tercatat memiliki aset terbesar yakni Rp1,23 triliun, diikuti PT Ricobana Abadi selaku kontraktor batu bara yang sudah aktif sejak 1981 dengan aset Rp520,61 miliar. Tiga entitas anak lainnya, yaitu PT Troposfir Mega Raya, PT Delta Samudra, dan PT Adikarsa Alam Resources, tercatat belum beroperasi secara komersial.
