PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA), emiten furnitur yang dulu bernama PT Boston Furniture Industries Tbk, menyampaikan koreksi laporan keuangan interim untuk semester pertama 2026 yang berakhir 30 Juni 2026. Laporan ini diaudit oleh KAP Doli, Bambang, Sulistiyanto, Dadang & Ali dengan opini wajar tanpa modifikasian, tetapi auditor menyelipkan paragraf penekanan mengenai ketidakpastian material atas kelangsungan usaha perseroan. Penyebabnya adalah akumulasi kerugian yang tembus Rp16,01 miliar per 30 Juni 2026, naik dari Rp10,32 miliar pada akhir 2025, seiring rugi periode berjalan sekitar Rp5,69 miliar dalam enam bulan terakhir. Auditor juga mencatat pengakuan penjualan sebagai hal audit utama, mengingat nilai penjualan neto semester ini mencapai Rp21,38 miliar dan proses pengakuannya dinilai cukup kompleks.
Bersamaan dengan laporan keuangan, manajemen SOFA lewat surat yang ditandatangani Direktur Dimas Adiyasa Wiryaatmaja pada 21 Agustus 2026 menjelaskan ke Bursa Efek Indonesia soal perubahan lebih dari 20 persen pada tiga pos utama. Total aset turun 10,34 persen menjadi Rp46,62 miliar dari sebelumnya Rp51,99 miliar, atau berkurang Rp5,38 miliar. Penyebab utamanya adalah kas dan setara kas yang menyusut 28 persen menjadi Rp2,18 miliar karena perseroan mempercepat pembayaran ke pemasok, serta persediaan yang turun 29 persen menjadi Rp13,42 miliar akibat cuci gudang atas barang yang sudah lama tidak laku. Di sisi lain, uang muka pembelian naik 74 persen menjadi Rp4,76 miliar karena barang pesanan dari pemasok belum diterima, dan aset pajak tangguhan melonjak 153 persen menjadi Rp2,50 miliar.
Total ekuitas perseroan turun lebih dalam, yakni 14,56 persen menjadi Rp33,35 miliar dari Rp39,04 miliar, seluruhnya berasal dari pembengkakan defisit akibat rugi berjalan. Sementara itu total liabilitas justru naik tipis 2,36 persen menjadi Rp13,27 miliar. Utang usaha ke pemasok anjlok 96 persen menjadi hanya Rp56,28 juta karena sudah dilunasi, tetapi muncul utang baru kepada pihak berelasi senilai Rp3,35 miliar yang menurut penjelasan manajemen merupakan pinjaman dari pemegang saham. Beban akrual juga melonjak 308 persen menjadi Rp1,27 miliar, sementara uang muka penjualan dari pelanggan turun 20 persen menjadi Rp8,05 miliar seiring pengiriman barang sejumlah proyek.
