PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA), emiten furnitur yang dulu bernama PT Boston Furniture Industries Tbk, berencana menambah dua bidang usaha baru ke Pasal 3 Anggaran Dasarnya: Aktivitas Perusahaan Induk (KBLI 64210) dan Aktivitas Pembiayaan Conduit (KBLI 64220). Rencana ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan 30 September 2026. Perubahan ini menyusul pengambilalihan 70,97 persen saham SOFA oleh PT Asia Investment Capital pada 24 Oktober 2025, yang kemudian diikuti pergantian nama perseroan dari Boston Furniture Industries menjadi Solusi Environment Asia pada Januari 2026.
Sebagai syarat POJK 17/2020, SOFA menunjuk KJPP Ferdinand, Danar, Ichsan dan Rekan (FDI&R) untuk menyusun studi kelayakan. Dua laporan terbit pada 21 Agustus 2026, yaitu laporan nomor 00157 untuk aktivitas perusahaan induk dan nomor 00156 untuk aktivitas pembiayaan conduit, dan keduanya menyimpulkan rencana ini layak dijalankan berdasarkan NPV positif, IRR di atas tingkat diskonto, dan Profitability Index di atas 1,00. Dalam skema yang diuraikan, dana yang dihimpun SOFA akan disalurkan lewat anak usahanya PT Ananta Energi Asia (AEA, kepemilikan 99 persen) untuk disetorkan sebagai modal ke PT Weiming Nusantara Alpha (WNA) dan PT Weiming Nusantara Gamma (WNG), masing-masing dimiliki 10 persen lewat AEA. WNA dan WNG baru berdiri dan mulai beroperasi tahun 2026, dan menurut dokumen terkait dengan proyek pengolahan sampah menjadi energi.
Laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang menyertai keterbukaan informasi ini menunjukkan penjualan semester pertama 2026 sebesar Rp21,385 miliar, sementara rugi usaha membengkak menjadi Rp7,009 miliar hanya dalam enam bulan, sudah melampaui rugi usaha sepanjang 2025 yang sebesar Rp4,851 miliar. Rugi tahun berjalan tercatat Rp5,693 miliar di semester pertama 2026, juga sudah melampaui rugi setahun penuh 2025 sebesar Rp5,299 miliar. Ekuitas perseroan turun dari Rp44,795 miliar pada akhir 2024 menjadi Rp39,036 miliar pada akhir 2025 dan Rp33,354 miliar per Juni 2026, sementara arus kas dari aktivitas operasi tercatat negatif Rp4,022 miliar pada semester pertama 2026.
