PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) menyampaikan jawaban resmi ke Bursa Efek Indonesia atas permintaan penjelasan tertanggal 25 September 2026 terkait laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025 yang baru disampaikan pada 9 September 2026. Laporan keuangan itu mendapat opini wajar dengan pengecualian dari auditor independen, dipicu oleh selisih pencatatan utang bank. Utang anak usaha, PT Mulia Cipta Teknologi, kepada PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk tercatat Rp25,57 miliar di pembukuan perusahaan, tetapi konfirmasi dari bank menyebut Rp38,43 miliar, selisih Rp12,86 miliar. Utang bank Perseroan sendiri ke PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk juga berbeda, yakni Rp258,86 miliar menurut pembukuan berbanding Rp274,98 miliar menurut konfirmasi bank, selisih Rp16,12 miliar. Kedua selisih itu berasal dari transaksi tahun 2023 dan manajemen mengaku masih menelusuri aliran dananya.

Auditor juga mencantumkan paragraf penekanan soal ketidakpastian kelangsungan usaha, seiring akumulasi defisit yang mencapai Rp334,02 miliar dan ekuitas Perseroan yang tergerus 79,52 persen menjadi tinggal Rp12,46 miliar. Penyebab utamanya adalah penjualan neto yang anjlok 63,04 persen, dari Rp176,49 miliar pada 2024 menjadi Rp65,23 miliar pada 2025. Manajemen menjelaskan penurunan itu sengaja terjadi karena perusahaan menghentikan kerja sama dengan pelanggan yang punya riwayat telat bayar di segmen corrugated, paper tube, dan paper cone, demi menjaga kualitas piutang. Di sisi lain, segmen ekspor yang disebut cheise justru tumbuh karena permintaan pasar luar negeri. Meski begitu, beban pokok penjualan tidak turun secepat penjualan, sehingga margin kotor Perseroan minus 59,53 persen dan margin operasional minus 70,57 persen. Manajemen menargetkan margin operasional kembali positif pada kuartal IV 2026.

Dari sisi kas, saldo kas dan bank Perseroan menyusut 71,91 persen menjadi hanya Rp2,37 miliar dengan kas fisik tercatat nihil, sementara siklus konversi kas memanjang dari 146,2 hari menjadi 299 hari. Piutang usaha pihak ketiga bruto tercatat Rp88,54 miliar dengan cadangan kerugian penurunan nilai Rp61,81 miliar, dan lebih dari Rp85,81 miliar di antaranya sudah menunggak lebih dari 90 hari. Lima debitur terbesar antara lain PT Kemasan Lestari senilai Rp35,49 miliar yang sudah dinyatakan pailit dan telah dicadangkan penuh, serta PT Rajawali Rahardja Mandiri sebesar Rp3,51 miliar yang masih dalam proses penagihan. Perseroan juga mencatat piutang pihak berelasi Rp36,88 miliar dalam bentuk pinjaman modal kerja tanpa bunga kepada PT Mitra Adhikarya Plasindo (Rp24,51 miliar), PT Garuda Prima Sentosa (Rp12,01 miliar), dan PT Sumber Makmur Lumintu (Rp358,53 juta), yang semuanya jatuh tempo 31 Desember 2026. Total liabilitas Perseroan mencapai Rp382,18 miliar, didominasi utang bank, sehingga rasio utang terhadap ekuitas melonjak menjadi 3.066 persen.

Di luar isu keuangan, saham SWAT telah disuspensi sejak 30 Juni 2025 dan masuk Papan Pemantauan Khusus dengan notasi X dan L, akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan auditan 2025 serta laporan interim triwulan I dan II 2026. Manajemen menyebut keterlambatan itu dipicu pergantian staf penyusun laporan keuangan dan serah terima data yang tidak lengkap, dan berjanji menuntaskan seluruh laporan interim, termasuk triwulan III 2026, paling lambat akhir Oktober 2026. Perseroan juga tengah menghadapi perkara pidana pasar modal terkait transaksi saham periode Juni-Juli 2018 yang telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Boyolali dan melibatkan Direktur Utama Perseroan yang kini ditahan. Manajemen menyatakan operasional harian tetap berjalan di bawah direksi dan manajemen lainnya, dan pemegang saham pengendali membuka opsi menggelar RUPSLB untuk mengganti direksi jika diperlukan.