PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode Januari hingga Juni 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, ditandatangani Direktur Utama Shio Alim Susanto. Dalam laporan itu, penjualan perusahaan kertas asal Boyolali ini tercatat hanya Rp305,48 juta untuk semester pertama 2026. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding penjualan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai Rp44,75 miliar, atau susut hampir seluruhnya dalam setahun.
Meski beban pokok penjualan juga ikut turun tajam menjadi Rp14,99 miliar dari Rp60,36 miliar, penurunan penjualan yang lebih besar membuat perusahaan tetap mencatat rugi kotor Rp14,69 miliar, sedikit lebih baik dibanding rugi kotor Rp15,60 miliar pada semester satu 2025. Setelah dikurangi beban operasional dan ditambah pendapatan usaha lainnya, rugi usaha tercatat Rp14,18 miliar dan rugi bersih mencapai Rp14,30 miliar. Angka ini sebenarnya menyusut dibanding rugi bersih Rp27,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu, sehingga rugi per saham juga mengecil dari Rp8,99 menjadi Rp4,73 per saham.
Dari sisi posisi keuangan, total aset SWAT per 30 Juni 2026 tercatat Rp376,88 miliar, turun dari Rp394,64 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas yang mencapai Rp378,72 miliar, sebagian besar berupa utang bank jangka panjang Rp346,34 miliar, kini lebih besar daripada total aset tersebut. Akibatnya, total ekuitas perusahaan berbalik menjadi negatif Rp1,83 miliar, dari sebelumnya positif Rp12,46 miliar pada akhir 2025.
Di sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi berbalik positif Rp9,67 miliar, dari sebelumnya minus Rp84,93 juta pada semester satu 2025. Namun pada periode ini SWAT juga melunasi utang kepada pemegang saham senilai Rp9,06 miliar dan membayar cicilan utang bank Rp2,08 miliar, sehingga kas di akhir periode tetap turun tipis menjadi Rp2,23 miliar dari Rp2,37 miliar pada akhir 2025.
