PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) melaporkan rugi bersih Rp96,64 miliar untuk semester I 2026, melonjak tajam dari rugi Rp4,36 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan yang bergerak di jasa konstruksi serta penyewaan ruang kantor dan hunian turun dari Rp14,05 miliar menjadi Rp5,85 miliar, selisih Rp8,2 miliar. Akibatnya, ekuitas perusahaan berbalik menjadi negatif Rp61,98 miliar per 30 Juni 2026, dari posisi positif Rp34,66 miliar pada akhir 2025. Rugi per saham dasar ikut melebar menjadi Rp80,53 dari Rp3,63 pada periode yang sama tahun lalu.
Pembengkakan rugi terutama berasal dari pos pendapatan (beban) lain-lain bersih yang tercatat minus Rp91,64 miliar, dibanding hanya Rp2,05 juta pada semester I 2025. Angka ini sejalan dengan turunnya nilai properti investasi bersih perusahaan, dari Rp169,20 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp77,56 miliar per 30 Juni 2026, penurunan sekitar Rp91,64 miliar dalam enam bulan. Beban keuangan justru turun tipis menjadi Rp5,29 miliar dari Rp6,88 miliar seiring pelunasan pinjaman bank.
Di sisi pendanaan, TAMA melunasi seluruh utang bank jangka pendek Rp35,57 miliar dan utang bank jangka panjang sekitar Rp101,58 miliar selama semester ini, sehingga saldo utang bank menjadi nol per 30 Juni 2026 dari sebelumnya sekitar Rp137,15 miliar. Sebagai gantinya, muncul utang pemegang saham baru senilai Rp140,00 miliar yang tercatat sebagai liabilitas jangka panjang, seiring penerimaan dana dari pihak berelasi dengan jumlah yang sama menurut laporan arus kas. Laporan keuangan interim ini telah direviu terbatas oleh kantor akuntan publik Kanaka Puradiredja, Suhartono melalui akuntan Tan Siddharta, dengan kesimpulan tidak ditemukan hal yang membuat laporan ini tidak disajikan secara wajar sesuai standar akuntansi keuangan di Indonesia. Laporan disampaikan ke bursa oleh Corporate Secretary Destry Sianturi pada 31 Agustus 2026.
