PT Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS), produsen kawat dan batangan tembaga serta aluminium yang berbasis di Semanan, Jakarta Barat, menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan neto perusahaan tercatat US$803,7 juta, naik 22 persen dari US$658,5 juta pada periode yang sama tahun 2025. Laba usaha naik 50 persen menjadi US$11,9 juta, sementara laba bersih melonjak 42 persen menjadi US$7,4 juta dari US$5,2 juta. Laba per saham dasar tercatat US$0,01, sama dengan periode sebelumnya, karena jumlah saham beredar tidak berubah di 734.680.000 saham.

Total aset perusahaan per 30 September 2026 mencapai US$217,3 juta, naik 24 persen dari US$175,6 juta pada akhir 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh piutang usaha dari pihak ketiga yang melonjak 81 persen menjadi US$105,7 juta dan persediaan yang bertambah 25 persen menjadi US$60,2 juta. Di sisi lain, kas dan setara kas perusahaan justru menyusut 33 persen menjadi US$10,6 juta dari US$15,9 juta. Total liabilitas naik lebih tajam, 35 persen menjadi US$136,3 juta, dengan utang bank jangka pendek bertambah 26 persen menjadi US$71,3 juta dan utang usaha kepada pihak berelasi melonjak 70 persen menjadi US$54,4 juta. Total ekuitas tumbuh lebih moderat sebesar 8,3 persen menjadi US$81,1 juta dari US$74,8 juta.

Yang mencolok dari laporan ini adalah arus kas dari aktivitas operasi yang berbalik menjadi negatif US$18,8 juta pada sembilan bulan 2026, dari sebelumnya positif US$17,5 juta pada periode yang sama tahun lalu. Perusahaan menutup kekurangan kas tersebut dengan menarik pinjaman bank jangka pendek baru senilai US$388 juta sepanjang periode, lalu membayar kembali US$370,1 juta dari pinjaman yang ada, sehingga arus kas dari aktivitas pendanaan tercatat positif US$16,7 juta. Perusahaan tetap membayar dividen kas sebesar US$1,2 juta pada sembilan bulan pertama 2026, lebih rendah dari US$2,6 juta yang dibayarkan pada periode yang sama tahun 2025.