PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) menyampaikan surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia terkait kenaikan lebih dari 20 persen pada pos liabilitas dalam laporan keuangan interim per 30 September 2026, sesuai aturan keterbukaan informasi Bursa Nomor I-E. Total liabilitas perusahaan naik 21,49 persen, dari Rp81,96 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi Rp99,57 miliar pada akhir September 2026. Direktur Utama Yentoro menjelaskan kenaikan ini terutama berasal dari bertambahnya utang usaha dan beban akrual yang terkait aktivitas bisnis anak usahanya, CCX Platform Pte Ltd. Dalam laporan posisi keuangan, utang usaha kepada pihak ketiga melonjak lebih dari dua kali lipat, dari Rp12,44 miliar menjadi Rp27,79 miliar, sementara beban akrual jangka pendek naik dari Rp7,89 miliar menjadi Rp11,28 miliar.

Di sisi laba rugi, pendapatan Jasnita untuk sembilan bulan pertama 2026 tercatat Rp183,60 miliar, naik 16,6 persen dari Rp157,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun beban umum dan administrasi naik lebih cepat, dari Rp39,88 miliar menjadi Rp49,89 miliar, sehingga laba usaha justru turun dari Rp4,70 miliar menjadi Rp3,00 miliar. Setelah memperhitungkan pos lain seperti hibah pemerintah Rp3,52 miliar dan pendapatan dividen Rp2,49 miliar, laba sebelum pajak tercatat Rp7,87 miliar, turun dari Rp12,19 miliar. Laba bersih konsolidasian sembilan bulan ini sebesar Rp7,03 miliar, tetapi hampir seluruhnya, yaitu Rp7,43 miliar, menjadi hak pemegang saham non-pengendali di anak usaha. Bagian yang menjadi hak pemegang saham Jasnita sendiri justru berbalik rugi Rp398,8 juta, dibandingkan untung Rp3,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi kas, saldo kas dan setara kas perusahaan turun dari Rp25,17 miliar menjadi Rp18,18 miliar, antara lain karena arus kas investasi yang negatif Rp22 miliar, termasuk penambahan aset lain-lain sebesar Rp17,98 miliar. Total aset tumbuh 13,1 persen menjadi Rp202,13 miliar, sementara total ekuitas naik dari Rp96,78 miliar menjadi Rp102,56 miliar. Namun kenaikan ekuitas itu terutama ditopang oleh kepentingan non-pengendali yang naik dari Rp33,76 miliar menjadi Rp40,57 miliar, sedangkan porsi ekuitas yang bisa diatribusikan ke pemegang saham induk justru menyusut dari Rp63,02 miliar menjadi Rp61,99 miliar akibat akumulasi kerugian yang membesar.