Telkomsel Enterprise menggelar diskusi bertajuk "Connecting the Future of Indonesia's Logistics Ecosystem" di Jakarta pada 2 September, mengumpulkan sekitar 35 pimpinan perusahaan logistik nasional bersama BPI Danantara dan Pos Indonesia. Forum yang digarap bersama Supply Chain Indonesia ini bertujuan mengubah keluhan operasional sehari-hari pelaku logistik menjadi agenda transformasi digital yang konkret. Ini penting karena biaya dan efisiensi logistik ikut menentukan harga barang yang sampai ke tangan konsumen.
Sejumlah masalah dibahas dalam forum tersebut, mulai dari biaya operasional yang tinggi, sistem pelacakan barang yang tercecer di berbagai aplikasi berbeda, koordinasi petugas di lapangan yang rumit untuk rute yang melibatkan banyak moda angkutan, hingga kebutuhan menjaga rantai pasok tetap aman di tengah pesatnya belanja daring dan proses penataan ulang BUMN logistik. VP Industrial and Resources Account Management Telkomsel, Nyoman Adiyasa, mengatakan transformasi digital harus terasa langsung bagi bisnis berupa keputusan yang lebih cepat, biaya yang lebih terkendali, operasi yang lebih aman, dan pelayanan ke pelanggan yang lebih baik.
Dalam forum itu, Telkomsel Enterprise memamerkan sejumlah alat yang sudah bisa dipakai pelaku logistik, seperti FleetSense untuk memantau armada dan perilaku pengemudi, Push-to-Talk untuk komunikasi cepat antarpetugas lapangan, kamera pengawas berbasis kecerdasan buatan untuk memantau insiden, serta SiteSense untuk membantu menentukan lokasi usaha yang paling menguntungkan. Alat-alat ini merupakan bagian dari layanan yang lebih luas, mencakup jaringan internet tetap dan seluler, jaringan khusus perusahaan, komputasi awan, keamanan siber, hingga analitik data, sehingga perusahaan logistik bisa mulai dari kebutuhan paling mendesak lebih dulu.
Sebagai contoh dampak yang sudah terlihat, Telkomsel menyebut penerapan gudang pintar berbasis jaringan generasi kelima yang dikerjakan bersama Huawei, meski detail skala dan hasilnya tidak dirinci dalam forum ini.
