PT Tifico Fiber Indonesia Tbk menggelar public expose insidentil secara daring melalui Google Meeting pada Selasa, 3 November 2026, pukul 14.00 sampai 14.30 WIB. Acara dihadiri jajaran komisaris dan direksi Perseroan, yaitu Presiden Komisaris Anton Wiratama, Presiden Direktur Sugito Budiono, Wakil Presiden Direktur sekaligus Direktur Marketing Nio I.T, Direktur HRD Johan Wirjanata, Direktur Finance & Accounting Silvia Wiratama, Direktur Procurement Diana Budiman, dan Direktur Produksi Wuryanto. Peserta eksternal yang hadir hanya tiga orang: analis Daniel dari Private Equity Holdings, Tatu Hudia dari media Periskop.id, dan Davy Rizqy Akbar yang mewakili Bursa Efek Indonesia.

Dalam sesi tanya jawab, analis Daniel menanyakan apakah Perseroan mengetahui ada komunikasi atau perubahan pemegang saham yang bisa menjelaskan lonjakan harga saham TFCO sebesar 94,55 persen dalam tiga hari, padahal laba Perseroan justru turun. Manajemen menjawab tidak mengetahui penyebab kenaikan tersebut dan menegaskan tidak ada rencana, kesepakatan, atau transaksi investor tertentu yang diketahui Perseroan sebagai pemicunya.

Soal kinerja, manajemen menjelaskan pendapatan semester pertama 2026 naik 5,2 persen, tetapi laba bruto turun 3,1 persen dan laba operasi turun 7,4 persen. Penyebabnya adalah kenaikan harga bahan baku akibat konflik di kawasan Timur Tengah pada kuartal II 2026, yang tidak bisa diteruskan seluruhnya ke harga jual ke pelanggan. Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs sekitar US$109 ribu pada Januari-Juni 2026 akibat pelemahan rupiah, serta pendapatan bunga yang turun 6 persen dari US$1,4 juta menjadi US$1,3 juta. Secara keseluruhan, laba operasi turun sekitar US$200 ribu dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara laba komprehensif enam bulan tercatat US$3,27 juta.

Mengenai rencana penggunaan dana, manajemen menyatakan tidak ada rencana investasi baru tahun ini dan Perseroan akan fokus melakukan efisiensi di seluruh sektor. Untuk dividen, manajemen menjelaskan bahwa sesuai UUPT 40/2007, Perseroan wajib menyisihkan sebagian laba bersih tiap tahun buku untuk cadangan wajib hingga mencapai minimal 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Karena posisi cadangan wajib Perseroan saat ini belum mencapai batas tersebut, Perseroan belum dapat membagikan dividen untuk saat ini.