PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) mengirimkan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia pada 22 Oktober 2026, menjawab surat permintaan penjelasan bursa bernomor S-13277/BEI.PP1/10-2026 tertanggal 20 Oktober 2026. Dalam suratnya, manajemen memaparkan kondisi keuangan terakhir berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, di mana perusahaan mencatatkan pendapatan US$97,3 juta, laba bruto US$4,3 juta, dan laba bersih selama semester pertama sebesar US$3,3 juta. Dari sisi neraca, total aset tercatat US$344 juta, dengan total liabilitas US$28,8 juta dan total ekuitas US$315,3 juta.

Perseroan menegaskan bahwa sejak akhir Juni 2026 tidak ada kontrak baru, sumber pendapatan baru, atau transaksi material lain yang belum diungkapkan. Bisnis utama TFCO tetap berjalan di industri polyester, mencakup produksi dan penjualan Polyester Staple Fiber, Polyester Filament Yarn, Polyester Chip, dan produk RCL. Untuk tahun 2026, strategi perusahaan berfokus pada efisiensi operasional, pengendalian biaya produksi, dan peningkatan kualitas produk. Selain itu, perusahaan menyebutkan rencana pengembangan bisnis baru di sektor properti dengan memanfaatkan aset tanah milik perusahaan di Surabaya, yang telah disetujui pemegang saham dalam RUPST Juni 2026.

Terkait faktor eksternal, manajemen menyebut terus memantau pergerakan harga bahan baku utama PTA dan MEG, biaya energi, nilai tukar, serta permintaan pasar domestik dan ekspor yang bisa mempengaruhi biaya produksi dan margin usaha. Persaingan di industri serat buatan dinilai tetap kompetitif tanpa pergeseran pangsa pasar yang signifikan, dan perusahaan menyatakan tidak ada perkara hukum material yang sedang dihadapi direksi, komisaris, maupun anak usaha. Soal pergerakan harga sahamnya belakangan, manajemen mengaku tidak mengetahui penyebab spesifiknya dan menilai hal itu murni mekanisme pasar di bursa, sekaligus memastikan tidak ada informasi material lain yang belum diungkapkan ke publik.