KDB Tifa Finance Tbk (TIFA) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia pada 29 Oktober 2026. Laporan ini ditandatangani Presiden Direktur Cho Jaeseong dan Direktur Eun Seonghyuk pada 27 Oktober 2026. Perusahaan pembiayaan ini mencatat laba bersih Rp41,78 miliar, turun 3,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp43,49 miliar. Laba per saham ikut turun dari Rp12,24 menjadi Rp11,76, sementara jumlah pendapatan hanya naik tipis 1,1 persen dari Rp132,16 miliar menjadi Rp133,60 miliar, kalah cepat dari kenaikan beban yang mencapai 4,4 persen menjadi Rp80,28 miliar.

Dari sisi aset, jumlah aset TIFA naik 8,1 persen menjadi Rp2,21 triliun dari Rp2,04 triliun per akhir 2025, didorong oleh kenaikan piutang investasi sewa pembiayaan pihak ketiga dari Rp1,65 triliun menjadi Rp1,81 triliun. Untuk membiayai ekspansi ini, perusahaan menambah pinjaman yang diterima dari pihak ketiga sebesar 26,1 persen, dari Rp564,74 miliar menjadi Rp712,34 miliar, serta pinjaman dari pihak berelasi yang naik dari Rp167,82 miliar menjadi Rp179,98 miliar. Akibatnya, jumlah liabilitas melonjak 16,7 persen menjadi Rp959,66 miliar, jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan ekuitas yang hanya naik 2,3 persen menjadi Rp1,25 triliun. Kas dan setara kas juga melonjak tajam dari Rp12,36 miliar menjadi Rp164,59 miliar.

Sejumlah rasio keuangan yang dilaporkan perusahaan turut memburuk. Imbal hasil aset atau ROA turun dari 4,31 persen menjadi 3,75 persen, dan imbal hasil ekuitas atau ROE turun dari 5,49 persen menjadi 4,55 persen. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional memburuk dari 58,96 persen menjadi 61,07 persen, sementara gearing ratio, yaitu perbandingan utang terhadap modal sendiri, naik dari 0,60 kali menjadi 0,72 kali. Di sisi lain, rasio permodalan perusahaan justru menguat dari 97,36 persen menjadi 105,14 persen.