Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menyampaikan surat kepada Bursa Efek Indonesia perihal materi Public Expose Tahunan 2026, ditandatangani Corporate Secretary Monalisa Irawan pada 3 September 2026. Merujuk surat sebelumnya tertanggal 24 Agustus 2026, paparan publik ini dijadwalkan berlangsung Selasa, 8 September 2026, pukul 09.00 sampai 10.00 WIB, sebagai bagian dari program Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan BEI dengan pendaftaran peserta melalui situs idx.co.id.

Materi presentasi menunjukkan pendapatan TOWR pada semester I 2026 naik 12,7 persen secara tahunan menjadi Rp7,206 triliun dari Rp6,394 triliun pada periode sama tahun lalu. Laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk tumbuh 12,4 persen menjadi Rp1,857 triliun dari Rp1,652 triliun. Sementara itu EBITDA, yaitu laba usaha sebelum dipotong bunga, pajak, dan penyusutan, hanya naik 4,8 persen menjadi Rp5,579 triliun dari Rp5,324 triliun, sehingga marginnya terhadap pendapatan turun dari sekitar 83 persen menjadi 77 persen. Berdasarkan segmen, pendapatan dari bisnis menara justru turun 3,3 persen akibat penyesuaian ulang harga sewa dengan PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk menyusul penggabungan usaha PT XL Axiata Tbk dan PT Smartfren Telecom Tbk, meski total pendapatan terkontrak tetap naik karena reset masa kontrak dan tidak ada menara yang berhenti sewa akibat merger tersebut. Pendapatan segmen connectivity tumbuh paling tinggi sebesar 33,8 persen, sedangkan pendapatan dari bisnis adjacent melonjak lebih dari 100 persen setelah konsolidasi PT Bach Multi Global menyusul perubahan status pengendali perusahaan itu pada awal 2026.

Per semester I 2026, TOWR mengoperasikan 36.892 menara telekomunikasi, naik 3,0 persen dari 35.825 menara pada periode sama tahun lalu, dengan 61.038 penyewaan aktif atau rasio tenant 1,65 kali. Jaringan serat optik perseroan mencapai sekitar 182.600 kilometer, dengan layanan Fiber-to-the-Home menjangkau 1.857.328 rumah yang bisa dilayani dan 376.461 di antaranya sudah berlangganan, setara tingkat penetrasi 20 persen, naik dari 12 persen pada semester I 2025.

Total pendapatan terkontrak jangka panjang perseroan mencapai Rp100,1 triliun hingga semester I 2026, hampir dua kali lipat dari Rp52,2 triliun pada 2020, dengan 74 persen berasal dari segmen menara dan sisanya Rp26,0 triliun dari bisnis non menara. Rasio utang bersih terhadap EBITDA tercatat 3,94 kali dengan utang bersih Rp44,1 triliun, didukung peringkat layak investasi BBB- dari S&P serta BBB dan AAA dari Fitch untuk skala global dan nasional. Arus kas operasi perseroan mencatat surplus Rp4,9 triliun, yang dialokasikan untuk belanja modal dan investasi sekitar Rp2,69 triliun, pembayaran bunga dan cicilan pokok utang sekitar Rp1,55 triliun, serta pembagian dividen Rp403 miliar kepada pemegang saham.