Menteri Perdagangan Budi Santoso menerima jajaran PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Jakarta, Selasa (11/8), untuk membahas perluasan ekspor otomotif melalui pemanfaatan perjanjian dagang yang sudah diteken Indonesia. Pertemuan ini relevan karena menyangkut salah satu andalan ekspor manufaktur nasional, sekaligus memunculkan tenggat baru untuk salah satu perjanjian dagang besar yang masih digodok.
Kemendag menyebut kerja sama dagang dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) ditargetkan selesai paling lambat November 2026 untuk memperkuat akses produk Indonesia ke kawasan itu. Pemerintah juga telah mengaktifkan otomatisasi Surat Keterangan Asal elektronik (e-SKA) untuk ekspor ke tujuh negara mitra, yakni Uni Emirat Arab, Hong Kong, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Pakistan, yang memudahkan pelaku usaha memperoleh fasilitas tarif preferensi.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto mengangkat peluang ekspor ke Amerika Latin, tetapi menyebut akses ke Meksiko masih terhambat karena Indonesia belum memiliki perjanjian dagang dengan negara tersebut. Sebagai alternatif, Kemendag mendorong TMMIN memaksimalkan pasar yang sudah memiliki perjanjian, seperti Peru melalui skema Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP-CEPA) yang sudah berjalan.