Trisula International Tbk (TRIS) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 ke Otoritas Jasa Keuangan pada 30 Oktober 2026. Penjualan bersih perseroan dan entitas anaknya tercatat Rp1,33 triliun, naik 12,2 persen dari Rp1,19 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor naik tipis menjadi Rp305,57 miliar dari Rp295,29 miliar, tetapi beban umum dan administrasi melonjak 18,4 persen menjadi Rp116,82 miliar dari Rp98,65 miliar, sehingga laba usaha hanya naik sedikit menjadi Rp107,88 miliar dari Rp106,81 miliar.

Secara total, laba bersih grup naik 3,1 persen menjadi Rp82,75 miliar dari Rp80,23 miliar. Namun porsi yang mengalir ke pemegang saham Trisula International sendiri justru turun 22,6 persen, dari Rp42,92 miliar menjadi Rp33,23 miliar. Sebaliknya, bagian laba untuk pemegang saham minoritas di entitas anak melonjak dari Rp37,31 miliar menjadi Rp49,52 miliar. Artinya, pertumbuhan laba grup pada periode ini lebih banyak dinikmati pemegang saham di luar Trisula International, kemungkinan karena entitas anak dengan porsi kepemilikan minoritas besar, seperti PT Trisula Textile Industries Tbk yang 78,35 persen sahamnya dipegang TRIS, mencatat kinerja lebih baik dibanding entitas yang sepenuhnya dikuasai perseroan.

Di sisi posisi keuangan, kas dan setara kas perseroan naik menjadi Rp167,38 miliar dari Rp132,55 miliar pada akhir 2025. Pinjaman bank jangka pendek turun menjadi Rp151,26 miliar dari Rp161,43 miliar, sehingga total liabilitas grup menyusut menjadi Rp492,60 miliar dari Rp518,14 miliar. Total ekuitas naik menjadi Rp873,61 miliar dari Rp841,10 miliar, sementara total aset relatif stabil di Rp1,37 triliun.