PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perseroan tercatat Rp327,6 miliar, turun 15,8 persen dari Rp388,9 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba kotor ikut turun dari Rp55,9 miliar menjadi Rp41,9 miliar. Namun laba bersih periode berjalan justru naik 92 persen, dari Rp4,96 miliar menjadi Rp9,52 miliar, dengan laba per saham naik dari Rp3,28 menjadi Rp6,30. Kenaikan laba ini ditopang oleh penghasilan lain-lain neto yang melonjak ke Rp26,3 miliar dari Rp9,6 miliar, terutama dari penjualan aset tetap senilai Rp81,1 miliar, serta beban keuangan yang turun dari Rp22,9 miliar menjadi Rp19,0 miliar.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perseroan per 30 September 2026 tercatat Rp731,2 miliar, turun dari Rp769,5 miliar pada akhir Desember 2025, sejalan dengan kas dan setara kas yang turun dari Rp32,0 miliar menjadi Rp27,7 miliar. Total liabilitas turun dari Rp381,6 miliar menjadi Rp333,8 miliar setelah perseroan mempercepat pelunasan utang pembiayaan konsumen dan liabilitas sewa, meski pada periode ini perseroan juga menarik pinjaman bank baru dengan saldo akhir Rp53,8 miliar. Total ekuitas naik dari Rp387,9 miliar menjadi Rp397,4 miliar, dengan modal saham tetap Rp151,02 miliar atas 1.510.200.000 lembar saham.
Arus kas dari aktivitas operasi turun dari Rp149,2 miliar menjadi Rp103,3 miliar. Arus kas investasi berbalik menjadi negatif Rp35,3 miliar, karena belanja aset tetap melonjak ke Rp123,2 miliar dari sebelumnya hanya Rp12,6 miliar, meski sebagian tertutup oleh penerimaan penjualan aset tetap Rp81,1 miliar. Arus kas pendanaan tercatat negatif Rp72,2 miliar meski perseroan menerima pencairan pinjaman bank Rp60,2 miliar dan pinjaman pemegang saham Rp25 miliar, karena dipakai untuk melunasi utang pembiayaan konsumen dan sewa. Laporan ini juga mencantumkan tiga anak usaha: PT Borneo Sentana Gemilang dan PT Multinet Perkasa Indonesia yang masing-masing dimiliki 99,8 persen dan sudah beroperasi di Balikpapan sejak 2022, serta PT Samudra Tara Indonesia yang dimiliki 99,9 persen untuk jasa angkutan laut dalam dan luar negeri, namun belum beroperasi hingga akhir September 2026.
