PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk mengumumkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan telah menerbitkan pernyataan efektif atas Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I lewat surat No. S-121/D.04/2026 tanggal 28 September 2026. Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 15 miliar saham baru bernilai nominal Rp10 dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham, setara hingga 25,53 persen dari modal disetor setelah aksi ini, sehingga nilai total penawaran mencapai sebanyak-banyaknya Rp3 triliun. Setiap pemegang 35 saham lama yang tercatat pada 8 Oktober 2026 pukul 16.15 WIB berhak atas 12 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD), dan setiap satu HMETD dapat ditukar dengan satu saham baru.
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), pemegang saham utama dengan porsi 24,404 persen, menyatakan tidak akan melaksanakan haknya dan mengalihkan seluruh 3.660.631.994 HMETD miliknya kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) senilai Rp732.126.398.800 pada harga yang sama, Rp200 per saham. Jika sisa saham yang ditawarkan tidak terserap penuh oleh pemegang saham lain, kekurangannya akan dijatah dulu kepada pemesan tambahan, baru kemudian ditutup oleh dua pembeli siaga: BCI sebanyak-banyaknya 3.089.368.006 saham senilai Rp617.873.601.200 dan PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) sebanyak-banyaknya 8.250.000.000 saham senilai Rp1,65 triliun. Total komitmen kedua pembeli siaga ini mencapai sebanyak-banyaknya 11.339.368.006 saham atau Rp2.267.873.601.200.
Jadwalnya, perdagangan saham dengan hak masih melekat (cum-right) berakhir 6 Oktober 2026 di pasar reguler dan negosiasi serta 8 Oktober 2026 di pasar tunai. HMETD akan didistribusikan 9 Oktober 2026 dan diperdagangkan dalam dua periode, 12 sampai 16 Oktober dan 19 sampai 23 Oktober 2026. Batas akhir pembayaran pemesanan saham tambahan jatuh pada 27 Oktober 2026, penjatahannya diumumkan 28 Oktober 2026, pembeli siaga wajib melunasi pembayaran penuh pada 29 Oktober 2026, dan pengembalian uang pemesanan yang tidak terpenuhi dilakukan 30 Oktober 2026.
Dalam skenario di mana hanya BCI dan BIS yang mengeksekusi haknya sebagai pembeli siaga tanpa partisipasi pemegang saham lain, porsi kepemilikan publik akan turun dari 58,045 persen menjadi 43,226 persen, BNBR turun dari 24,404 persen menjadi 18,173 persen, sementara BCI dan BIS masing-masing masuk dengan porsi 11,489 persen dan 14,043 persen. Jumlah saham beredar Perseroan akan bertambah dari 43,75 miliar menjadi paling banyak 58,75 miliar lembar.
