PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) menyampaikan surat penjelasan bertanggal 8 September 2026 kepada Bursa Efek Indonesia, menanggapi surat BEI No. S-11264/BEI.PP2/09-2026 tanggal 3 September 2026 perihal penelaahan laporan keuangan interim kuartal II 2026. Salah satu poin yang dijelaskan adalah opini wajar dengan pengecualian (WDP) dari auditor Andi Ruswandi Wisnu & Rekan, yang muncul karena laporan keuangan dua entitas anak di luar negeri, Venteny Pte. Ltd. di Singapura dan Venteny GK di Jepang, tidak diaudit oleh auditor independen. Total aset kedua entitas itu Rp35,33 miliar atau 2,37 persen dari total aset konsolidasian Rp1,49 triliun per 30 Juni 2026. Perseroan beralasan fokus audit diarahkan ke PT Lampung Berkah Finansial Teknologi, PT Venteny Matahari Indonesia, dan laporan konsolidasian, serta menyatakan tidak ada potensi dampak material dari kedua entitas yang tidak diaudit tersebut.

Poin yang lebih menyita perhatian ada pada kualitas piutang pinjaman. Piutang kotor dari aktivitas pemberian pinjaman naik Rp78,63 miliar atau 6,80 persen, dari Rp1,16 triliun per akhir 2025 menjadi Rp1,24 triliun per 30 Juni 2026. Namun cadangan penurunan nilai, yaitu dana yang disisihkan untuk piutang berisiko tak tertagih, naik lebih cepat, Rp13,38 miliar atau 23,41 persen, dari Rp57,15 miliar menjadi Rp70,53 miliar, sehingga rasio cadangan terhadap piutang kotor naik dari 4,94 persen ke 5,71 persen. Perseroan menjelaskan kenaikan ini murni akibat bertambahnya piutang yang telah jatuh tempo lebih dari 180 hari serta peningkatan volume penyaluran pinjaman, bukan karena perubahan asumsi penghitungan cadangan. Perusahaan juga menyebut piutang dengan usia tunggakan 60 hari sebesar 5,3 persen dan usia 150 hari sebesar 0,8 persen dari total piutang kotor.

Di sisi liabilitas, utang obligasi jangka pendek turun Rp90,31 miliar atau 28,26 persen menjadi Rp229,33 miliar, sementara utang obligasi jangka panjang turun Rp133,89 miliar atau 39,21 persen menjadi Rp207,60 miliar, keduanya karena pembayaran pokok pinjaman. Perseroan juga mengonfirmasi adanya perubahan klasifikasi akun untuk perbandingan periode 31 Desember 2025 antara laporan yang dipublikasikan April 2026 dan laporan yang dipublikasikan Agustus 2026, dengan pergeseran nilai sekitar Rp341,49 miliar pada pos utang obligasi jangka panjang serta pos utang lain-lain dan pinjaman pihak ketiga. Perusahaan menegaskan ini adalah reklasifikasi berdasarkan jangka waktu jatuh tempo yang sudah melewati 12 bulan, bukan koreksi kesalahan penyajian sebelumnya, dan tidak mengubah jumlah total liabilitas, beban, maupun laba rugi.

Perseroan juga menjelaskan lonjakan beban branding dari Rp785,25 juta menjadi Rp4,86 miliar akibat kegiatan sponsorship, yang berbanding terbalik dengan beban iklan dan pemasaran yang turun dari Rp1,97 miliar menjadi Rp4,34 juta karena perubahan strategi. Selain itu, pendapatan bunga melonjak 403 persen menjadi Rp1,57 miliar akibat sisa dana yang masih mengendap sejak akhir 2025, dan pendapatan lain-lain naik menjadi Rp12,06 miliar dari hasil negosiasi pembayaran utang yang dipercepat sebelum jatuh tempo, yang menurut perusahaan bersifat tidak berulang.