PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan neto tercatat Rp5,07 triliun, naik dari Rp4,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih yang bisa diatribusikan ke pemilik perusahaan melonjak 74 persen, dari Rp285,08 miliar menjadi Rp496,22 miliar, sehingga laba per saham naik dari Rp137,28 menjadi Rp237,58.
Kenaikan laba ini bukan cuma soal penjualan yang bertambah. Laba kotor naik 21 persen menjadi Rp1,21 triliun, sementara total beban usaha justru turun dari Rp620,90 miliar menjadi Rp575,67 miliar, terutama karena beban penjualan berkurang dari Rp413,85 miliar menjadi Rp361,37 miliar. Laba usaha pun melompat 67,6 persen menjadi Rp637,69 miliar. Beban bunga juga berkurang hampir separuh, dari Rp19,12 miliar menjadi Rp8,08 miliar, seiring utang bank jangka pendek yang dipangkas dari Rp319 miliar menjadi Rp185 miliar. Arus kas dari kegiatan operasi naik dari Rp303,21 miliar menjadi Rp493,65 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas naik 22,6 persen atau Rp223,97 miliar menjadi Rp1,21 triliun. Dalam surat penjelasan resmi ke OJK dan BEI, direksi WIIM menyebut kenaikan ini terutama berasal dari utang usaha kepada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai yang bertambah Rp280,78 miliar, terkait pembelian pita cukai rokok. Persediaan perusahaan juga membesar dari Rp1,83 triliun menjadi Rp2,06 triliun. Sepanjang periode ini WIIM membagikan dividen kas Rp217,87 miliar, lebih besar dari Rp134,51 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Surat pernyataan direksi ditandatangani Direktur Utama Ronald Walla dan Direktur Lucas Firman Djajanto pada 27 Oktober 2026.
