Wintermar Offshore Marine (WINS) menggelar public expose tahunan secara virtual pada Rabu, 12 Agustus 2026, dihadiri 67 peserta eksternal yang terdiri dari investor individu dan analis sekuritas seperti Trimegah, RHB, BNI Sekuritas, Maybank, CGS International, dan Mirae Asset. Dalam sesi tanya jawab, Direktur Utama Sugiman Layanto, Direktur Janto Lili, dan Head of Corporate Planning and Investor Relations Pek Swan menjelaskan alasan Perseroan mengambil alih penuh Fast Offshore Supply (FOS) dan Fast Offshore Indonesia (FOI), meski kedua entitas itu masih mencatat kerugian pada semester pertama 2026. Manajemen menyebut FOS baru mendapat dua kontrak besar pembangunan kapal Crew Transfer Vessel, salah satunya didukung kontrak sewa lima tahun, sementara FOI sudah mengamankan kontrak untuk dua unit kapal hingga 2028. Akuisisi ini diperkirakan menekan laba Perseroan pada 2026, sebelum mendorong pertumbuhan signifikan pada 2027 dan 2028 seiring pengiriman kapal baru.

Soal angka keuangan, manajemen mengungkapkan nilai kontrak yang dipegang Perseroan sebelum akuisisi FOS mencapai 58 juta dolar AS, di mana sekitar sepertiganya berdurasi lebih dari satu tahun. Kenaikan kepentingan non-pengendali pada semester I 2026, yaitu porsi laba anak usaha yang menjadi hak pemegang saham minoritas di luar WINS, dijelaskan berasal dari kinerja kuat kapal jenis Platform Supply Vessel milik perusahaan patungan. Armada Perseroan saat ini berjumlah 52 unit kapal. Dua kapal yang baru diakuisisi masing-masing berusia sekitar 17 tahun dan 10 tahun, dibiayai kombinasi kas internal sebesar 20 sampai 30 persen dan sisanya dari fasilitas pinjaman bank.

Untuk proyek migas domestik, manajemen menyatakan tetap berpartisipasi dalam tender proyek ENI yang mengambil alih Blok IDD dari Chevron dan proyek Inpex, meski kebutuhan kapal baru untuk keduanya baru diperkirakan terealisasi pada 2028 atau 2029. Perseroan memutuskan mundur dari proyek Kasuari milik Genting Oil karena durasi kontrak yang terlalu panjang dan skema pembayaran dalam Rupiah dinilai berisiko. Sebelum akuisisi FOS, 75 persen pendapatan Perseroan berasal dari Indonesia, dan porsi pendapatan dari luar negeri diperkirakan naik signifikan setelah akuisisi rampung. Perseroan juga menegaskan sudah berhenti memasarkan kapal segmen low tier dan akan fokus membangun kapal mid tier serta high tier berteknologi Dynamic Positioning.