PT Waskita Karya (Persero) Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 3 September 2026 untuk membahas enam usulan restrukturisasi atas Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2019. Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang ditandatangani Sekretaris Perusahaan Steven Subianto, dari pemegang obligasi yang hadir, 97,14 persen menyatakan setuju atas penjelasan kelalaian dan usulan restrukturisasi, sedangkan 2,86 persen menolak. Ketentuan Perjanjian Perwaliamanatan mensyaratkan persetujuan minimal 75 persen suara yang hadir agar keputusan sah dan mengikat, sehingga kuorum RUPO ini terpenuhi.

Enam usulan yang disetujui mencakup perpanjangan jatuh tempo obligasi menjadi 31 Desember 2034, serta penurunan bunga menjadi 5 persen per tahun setelah perubahan Perjanjian Perwaliamanatan berlaku efektif. Selama masa peralihan, bunga standstill ditetapkan 9,75 persen sejak tanggal emisi hingga 16 Mei 2024, lalu turun ke 5 persen sejak 17 Mei 2024 sampai sehari sebelum perubahan perjanjian berlaku efektif. RUPO juga menyetujui penghapusan denda akibat gagal bayar atau keterlambatan, serta pengesampingan seluruh cidera janji yang sudah terjadi sampai perubahan perjanjian berlaku efektif. Sebagai gantinya, Waskita menerima sejumlah kewajiban baru: memastikan dana pembayaran tersedia paling lambat satu hari kerja sebelum jatuh tempo, melaporkan setiap rencana dan realisasi divestasi aset ruas tol atau saham perusahaan pengelola jalan tol (BUJT) kepada wali amanat, memberi tahu wali amanat bila ada perubahan pengaturan kas dan rekening perusahaan, menjamin anggaran mencakup seluruh kewajiban jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan, serta menjaga rasio kemampuan membayar bunga (ISCR) minimal 1,00 kali mulai tahun buku yang berakhir 31 Desember 2027.

Dalam siaran pers terpisah, Direktur Keuangan Waskita Karya Wiwi Suprihatno menyebutkan bahwa sejak akhir 2023 perusahaan telah menurunkan total utang 20,8 persen menjadi Rp66,5 triliun dari sekitar Rp84 triliun. Utang ke vendor yang telah lewat jatuh tempo (past due) juga turun 97,1 persen, dari Rp2,13 triliun pada 2022 menjadi Rp48 miliar per semester pertama 2026, sementara seluruh utang pajak past due telah lunas 100 persen sejak 2024. Dari sisi pendapatan, Waskita mencatatkan pendapatan usaha semester pertama 2026 sebesar Rp4,92 triliun, naik 58,49 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,1 triliun, didorong proyek Sekolah Rakyat dan jaringan irigasi dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Wiwi juga menyebutkan nilai kontrak baru yang terkumpul sampai Juni 2026 mencapai Rp5,1 triliun, didominasi pekerjaan konektivitas sebesar 45,6 persen dan infrastruktur air 21,7 persen. Perseroan saat ini masih mengerjakan sejumlah proyek strategis seperti LRT Jakarta Fase 1B, bendungan, rumah sakit, dan Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato di Timor Leste, serta terus berkomunikasi dengan Daya Anagata Nusantara (Danantara) terkait optimalisasi aset jalan tol dan konsolidasi BUMN Konstruksi.