Pemerintah meresmikan ekspor perdana sel baterai litium dari kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam acara yang juga menandai peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk tujuh proyek industri baru di kawasan tersebut. Momen ini penting karena menjadi bukti konkret bahwa hilirisasi nikel mulai merambah ke produk jadi bernilai tambah lebih tinggi, yaitu sel baterai kendaraan listrik, bukan sekadar bahan mentah atau setengah jadi.
Secara keseluruhan ada 11 proyek yang diresmikan dalam acara tersebut. Empat proyek sudah memasuki tahap komersial dan ekspor, yakni PT Blue Sparking Energy yang memproduksi bahan baterai berbasis nikel bernama mixed hydroxide precipitate (MHP) sebanyak 67.000 ton per tahun, PT REPT Battero Indonesia yang memproduksi sel baterai kendaraan listrik dengan kapasitas 8 gigawatt-hour per tahun, PT Pioneer Aluminium Industries yang memproduksi aluminium elektrolitik 300.000 ton per tahun, serta PT XCMG Indonesia Manufacturing yang memproduksi alat berat bertenaga listrik sebanyak 700 unit per tahun. Tujuh proyek lainnya baru memulai pembangunan, yaitu PT Guang Ching Nickel Cobalt dan PT Inno Prima Material untuk bahan baterai, PT Tinci Materials Indonesia untuk elektrolit baterai, PT Weda Bay Aluminium dan PT Bintang Karya Aluminium untuk industri aluminium elektrolitik, Foton Guangqing Motor Indonesia untuk kendaraan berat listrik, serta PT Flatsolar Energy Indonesia untuk kaca panel surya. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memperkirakan seluruh proyek ini bisa menyerap sekitar 13.000 tenaga kerja baru, meski angka itu masih berupa proyeksi, bukan realisasi.
Nilai barang yang dijual Indonesia ke luar negeri. Naik 0,40 miliar US$ dibanding Juli 2026. Naik 3 periode beruntun. Tertinggi dalam 32 bulan yang tercatat.
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Ekspor. Diolah The Signal.
Kontribusi investasi di Maluku Utara terus membesar. Sejak 2021 hingga Juni 2026, total realisasi investasi di provinsi itu mencapai Rp423,7 triliun, dengan Rp65,4 triliun di antaranya terealisasi pada semester I 2026 saja, naik 46 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus Kabupaten Halmahera Tengah, tempat IWIP berada, realisasi investasinya mencapai Rp55,7 triliun pada semester I 2026. Sejalan dengan itu, ekonomi Maluku Utara tumbuh 15,35 persen pada triwulan II 2026, tertinggi di antara 38 provinsi, dengan industri pengolahan menyumbang hampir separuh produk domestik regional bruto (PDRB), yaitu total nilai barang dan jasa yang dihasilkan provinsi tersebut dalam setahun. Surplus perdagangan Maluku Utara pada 2025 tercatat Rp31,1 triliun, mayoritas berasal dari ekspor produk olahan nikel.
Secara nasional, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja langsung. Sektor hilirisasi menyumbang hampir 30 persen dari total realisasi investasi tersebut, dan lebih dari 75 persen investasi hilirisasi itu justru terjadi di luar Pulau Jawa, termasuk di Maluku Utara. Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan hilirisasi mineral, terutama nikel, berlangsung di wilayah timur Indonesia yang dekat dengan sumber tambangnya.
