PT Suparma Tbk (SPMA) menyampaikan penjelasan resmi ke Bursa Efek Indonesia atas kenaikan jumlah liabilitas lebih dari 20 persen, sesuai aturan keterbukaan informasi BEI. Total liabilitas perusahaan naik dari Rp1,17 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp1,56 triliun per 30 September 2026, atau naik 33 persen dalam sembilan bulan. Perusahaan menyebut tiga sebab utama di balik lonjakan ini.
Sebab pertama, pada 26 Juni 2026 Suparma menerima pinjaman dari pihak berelasi senilai Rp73,6 miliar untuk membeli tanah seluas 57.895 meter persegi milik Bpk. Welly di Kelurahan Warugunung, Kecamatan Karangpilang, Surabaya, sebagai bagian rencana ekspansi usaha. Sebab kedua, saldo utang bank ke PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk membengkak karena penggunaan kredit modal kerja naik dari US$10,34 juta pada akhir 2025 menjadi US$20,25 juta pada akhir September 2026, hampir dua kali lipat, untuk membeli bahan baku menjelang pengoperasian mesin kertas baru, Mesin Kertas No. 11, yang mulai berjalan pada 15 Oktober 2026.
Sebab ketiga adalah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekitar 8 persen, dari Rp16.782 menjadi Rp17.998 per dolar, yang menambah nilai liabilitas berdenominasi asing seperti utang bank jangka panjang, surat utang jangka menengah, dan liabilitas sewa. Dari sisi laba, Suparma mencatat penjualan bersih naik dari Rp1,99 triliun menjadi Rp2,20 triliun, namun laba periode berjalan justru turun dari Rp68,43 miliar menjadi Rp63,37 miliar, terutama karena rugi selisih kurs yang melonjak dari Rp19,64 miliar menjadi Rp54,69 miliar. Jumlah saham beredar juga bertambah dari 4,10 miliar menjadi 5,33 miliar lembar akibat pembagian dividen saham senilai Rp492,04 miliar, sehingga laba per saham dasar turun dari Rp13 menjadi Rp12.
