Senin, 7 September 2026 · 20.49 WIB
IHSG 6.619,67 ▼0,25% USD/IDR 17.631 ▲0,07% Emas (spot) Rp2.499rb ▲1,13%
Signal Harian · edisi arsip

Dolar Menguat, Laba Emiten Terbelah, Anggaran 2027 Membesar

Senin, 31 Agustus 2026 · dirangkai dari 35 berita

Tekanan dari penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak akibat konflik AS-Iran mewarnai pembukaan pekan ini, sementara musim laporan keuangan semester I menyingkap kualitas laba yang beragam di sejumlah emiten dan sinyal anggaran 2027 sama-sama mengarah ke penambahan.

01

Dolar dan Minyak Menekan, Rupiah Sempat Pulih

Sinyal Ketua The Fed Kevin Warsh yang membuka peluang kenaikan suku bunga mendorong dolar AS menguat, dengan peluang kenaikan bunga September naik ke 57 persen, membuat rupiah sempat melemah 0,32 persen ke Rp17.750 dan yen mendekati 160 per dolar. Harga minyak dunia ikut melonjak setelah serangan AS ke peluncur Iran di Selat Hormuz, Brent naik 2,52 persen ke US$90,32 per barel dan WTI naik 2,41 persen ke US$85,41 per barel. Menjelang penutupan, rupiah membaik ke Rp17.741 dan IHSG naik tipis 0,11 persen ke 6.525,48, tanda tekanan pagi belum sepenuhnya menular ke pasar domestik. Dari sini ada dua kemungkinan, tekanan berlanjut atau mereda. Yang lebih mungkin adalah berlanjut, sebab peluang kenaikan bunga The Fed sudah di atas separuh dan konflik AS-Iran di Hormuz belum mereda, sementara skenario mereda baru berlaku kalau inflasi AS turun mendekati target 2 persen sebelum rapat FOMC September atau serangan balasan di Hormuz berhenti. Kedua sinyal itu, data inflasi AS dan perkembangan di Hormuz, akan menentukan arah dalam beberapa pekan mendatang.

02

Musim Laporan Semester I: Laba Kop, Inti Retak

Pola yang muncul di beberapa laporan keuangan semester I 2026 menunjukkan laba besar tidak selalu berarti bisnis inti membaik. Laba DOOH melonjak 9,5 kali menjadi Rp63,3 miliar, tapi operasi intinya justru rugi Rp12,7 miliar, sementara laba UNTR anjlok 91 persen menjadi Rp742 miliar akibat kerugian penurunan nilai investasi Rp2,75 triliun. Di sisi lain, TAMA mencatat ekuitas negatif Rp61,98 miliar setelah rugi melonjak jadi Rp96,64 miliar, dan CASH mengoreksi laporan keuangannya sehingga ekuitas ikut menjadi negatif Rp449,5 juta dengan liabilitas naik 86 persen. DEWI mencatat laba naik 43 persen, tapi utang bank jangka pendeknya melonjak 509 persen seiring pelunasan utang jangka panjang. Arahnya makin jelas, semakin banyak emiten yang laporannya perlu dibaca sampai ke struktur utang dan pos nonoperasional, bukan sekadar angka laba di baris atas, dan sisa laporan emiten lain yang belum rilis serta tindak lanjut Bursa Efek Indonesia atas emiten yang sudah diminta penjelasan seperti KMDS dan LIFE akan menunjukkan apakah pola ini meluas.

03

Anggaran 2027 Melebar dari Pertahanan ke Infrastruktur

Beberapa sinyal anggaran untuk 2027 sama-sama mengarah ke penambahan. Anggaran Kementerian Pertahanan untuk 2027 naik menjadi Rp189 triliun, bertambah Rp50 triliun dari pagu indikatif awal Rp139 triliun. DPR memanggil lima pejabat ekonomi kunci, dari Menteri Keuangan hingga calon Gubernur Bank Indonesia, untuk membahas sinergi kebijakan menuju target pertumbuhan 6 persen dan investasi Rp1.200 triliun pada 2027. Danantara juga menyiapkan Rp456 miliar bersama Adhi Karya untuk mempercepat proyek hunian LRT City yang berdampak pada 2.400 konsumen. Arahnya sudah terlihat, belanja dan target investasi negara untuk 2027 bergerak ke atas sebelum pembahasan resmi dimulai. Pembahasan RAPBN 2027 di DPR dalam beberapa pekan mendatang akan menunjukkan apakah kenaikan pagu indikatif ini bertahan sampai pengesahan akhir.

Yang paling menentukan langkah selanjutnya adalah perkembangan konflik AS-Iran di Selat Hormuz dan data inflasi AS jelang keputusan The Fed, karena keduanya akan menentukan apakah tekanan dolar dan minyak hari ini menjadi tren atau sekadar riak sesaat.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →