Rabu, 19 Agustus 2026 · 16.03 WIB
IHSG 6.409,39 ▼0,63% USD/IDR 17.825 ▲0,01% Emas (spot) Rp2.497rb ▲1,09%
Signal Harian · edisi arsip

Rupiah Tertekan, Emas Jadi Pelarian, Utang PTPP Menumpuk

Selasa, 18 Agustus 2026 · dirangkai dari 34 berita

Rupiah tertekan ke kisaran Rp17.847 hingga Rp17.862 per dolar AS jelang keputusan BI Rate besok, sementara harga emas dan minat investor pada produk emas kompak naik, dan PTPP mengajukan restrukturisasi pada tiga instrumen utang sekaligus.

01

Rupiah Tertekan, BI Intervensi Jelang RDG

Rupiah bergerak melemah di kisaran Rp17.847 hingga Rp17.862 per dolar AS, tertekan kenaikan harga minyak dunia dan naiknya utang luar negeri, sementara Bank Indonesia tetap masuk ke pasar NDF untuk menahan pelemahan lebih lanjut. Utang luar negeri Indonesia naik 4,4 persen secara tahunan menjadi US$453,4 miliar pada triwulan II 2026, dengan rasio terhadap PDB 30,6 persen, namun kenaikan ini ditopang aliran dana asing yang membeli surat utang pemerintah dan SRBI, instrumen yang memang dipakai BI untuk menjaga rupiah. Pertumbuhan utang pemerintah sendiri justru melambat dari 3,8 persen ke 2,9 persen, sementara utang swasta mengecil. Arah tekanan pada rupiah sudah jelas masih berlanjut dengan BI mempertahankan pola intervensi, dan kepastiannya akan terlihat dari keputusan BI Rate yang dijadwalkan Rabu besok, 19 Agustus, yang diperkirakan bertahan di 5,75 persen.

02

Emas Menguat di Semua Jalur Sekaligus

Harga emas Antam naik Rp18.000 menjadi Rp2.695.000 per gram, sejalan dengan harga acuan ekspor emas dari Kemendag yang naik 0,65 persen menjadi US$131.777,67 per kilogram untuk paruh kedua Agustus, didorong permintaan global yang menguat seiring suku bunga acuan dunia turun. Minat investor pada produk emas di pasar modal ikut naik, tampak dari penambahan 600.000 unit penyertaan ETF emas syariah XSGO menjadi 2,2 juta unit dan penambahan 1 juta unit ETF Emas Trimegah menjadi 110 juta unit, menyusul lonjakan 50 juta unit atau 85 persen sebelumnya. Arah kenaikan permintaan emas ini sudah jelas terlihat dari tiga jalur sekaligus, yaitu harga fisik, harga acuan ekspor, dan minat pada produk investasi. Kepastian arah berikutnya bisa dilihat dari harga acuan ekspor Kemendag periode 1-15 September serta arus masuk unit ETF emas pekan depan.

03

Tekanan Utang PTPP Menjalar ke Tiga Instrumen

PTPP mengundang pemegang tiga instrumen utang berbeda ke rapat pada hari yang sama untuk membahas permohonan restrukturisasi, yaitu Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I 2024, Sukuk Mudharabah Seri B, dan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I 2021 Seri B, dengan RUPO dan RUPSu dijadwalkan 1 September 2026. Permohonan yang diajukan sendiri oleh perseroan untuk tiga instrumen sekaligus ini berbeda dari pola yang terlihat pada TAFS di hari yang sama, yang menyatakan dana pelunasan pokok obligasi Rp223,565 miliar yang jatuh tempo Oktober sudah tersedia dari kas internal. Arah tekanan pembayaran utang di PTPP tergolong jelas, menjalar ke lebih dari satu instrumen sekaligus dalam satu hari. Kepastian selanjutnya akan terlihat dari hasil RUPO dan RUPSu pada 1 September 2026, apakah pemegang obligasi dan sukuk menyetujui permohonan restrukturisasi tersebut.

Yang paling menentukan besok adalah keputusan BI Rate, karena arah rupiah dan aliran dana ke surat utang pemerintah akan mengikuti sikap Bank Indonesia itu.

Berita yang terbit Selasa, 18 Agustus 2026

Buka edisi terbaru →