BUMN Karya Makin Dalam di Tekanan Arus Kas Sukuk
WIKA memanggil pemegang sukuknya ke empat RUPSU berbeda dalam rentang 9 sampai 15 September, meminta penundaan jatuh tempo pokok dan bagi hasil untuk seri A, seri B dan C, Sukuk Tahap II, hingga Sukuk Berkelanjutan II Tahap I periode ke-20 dan ke-21, sekaligus memohon pengesampingan gagal bayar bagi hasil ke-14. Di saat bersamaan, BEI mengoreksi pengumuman restrukturisasi obligasi ADHI seri ADHI04CN1 senilai Rp102,715 miliar, yang menggeser dua jadwal kupon ke tanggal yang sama, 9 Juli 2027, sehingga menumpuk kewajiban ketimbang menghapusnya. WEGE, yang berada di klaster BUMN karya yang sama, mencatat kontrak baru naik 568 persen menjadi Rp775 miliar, namun lonjakan itu sebagian besar terjadi karena basis tahun lalu yang sangat rendah, cuma Rp116 miliar, dan perseroan tetap menyiapkan rencana divestasi aset lebih dari Rp1 triliun untuk memperkuat likuiditas. Ketiga emiten ini menunjuk ke arah yang sama, tekanan arus kas di sektor konstruksi pelat merah belum mereda dan malah menyebar ke lebih banyak instrumen utang. Yang akan menentukan apakah tekanan ini mereda atau berlanjut adalah hasil kuorum RUPSU WIKA pertengahan September, sebab persetujuan pemegang sukuk menentukan apakah penundaan berjalan tertib atau berubah menjadi gagal bayar resmi.