Jumat, 25 September 2026 · 02.57 WIB
IHSG 6.298,61 ▼1,20% USD/IDR 17.893 ▲0,49% Emas (spot) Rp2.460rb ▲0,30%
Signal Harian · edisi arsip

Gagal Bayar BUMN Karya Meluas, Rupiah dan Saham Ikut Tertekan

Kamis, 24 September 2026 · dirangkai dari 45 berita

Waskita Karya resmi menunda pembayaran pokok obligasi yang jatuh tempo hari ini, sementara rupiah dan IHSG sama-sama melemah dan sejumlah emiten kecil kembali disorot ihwal dilusi pemegang saham minoritas.

01

Gagal Bayar BUMN Karya Meluas

Waskita Karya resmi menunda pembayaran pokok Obligasi III Seri A yang jatuh tempo hari ini, 24 September 2026, dan BEI melanjutkan suspensi sahamnya di seluruh pasar sambil menyebut ini indikasi masalah kelangsungan usaha. Sehari setelahnya, Waskita Beton Precast mengaku berpotensi menunda pembayaran kupon ke-8 Obligasi I dan II 2022 senilai 2 persen dari pokok yang jatuh tempo 25 September 2026, karena kas operasional tidak mencukupi. Waskita Beton Precast juga sudah mengajukan rencana pemulihan ekuitas negatif ke bursa lewat konversi utang jadi saham, setelah sebelumnya menerbitkan 39,35 miliar saham baru untuk keperluan serupa. Pola ini melanjutkan sinyal yang sudah terlihat kemarin soal utang jatuh tempo BUMN karya, dan kini terkonfirmasi lewat gagal bayar sungguhan, bukan sekadar potensi. Yang akan menentukan apakah ini meluas ke entitas BUMN karya lain adalah apakah Waskita Beton Precast benar menunda kupon besok, 25 September 2026.

02

Rupiah dan IHSG Tertekan Bersamaan

Rupiah melemah 0,26 persen ke Rp17.864 per dolar AS, dipicu lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan Iran dan Amerika Serikat serta ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan, bukan menurunkan, suku bunga. Data resmi sore ini menunjukkan pelemahan itu berlanjut ke Rp17.893 per dolar AS, sementara IHSG ikut turun 1,20 persen ke level 6.298,61. Tekanan ini melanjutkan pola kemarin, saat rupiah dan saham sama-sama tertekan meski Bank Indonesia menahan suku bunga acuan. Arahnya masih condong melemah selama dua pemicu itu, harga minyak dan ekspektasi The Fed, belum berbalik. Yang akan menguatkan atau mematahkan tekanan ini adalah perkembangan ketegangan Iran-AS dan sikap resmi The Fed dalam waktu dekat.

03

Dilusi dan Keterlambatan Tata Kelola Emiten Kecil

Beberapa emiten kecil kembali menunjukkan pola yang sama, aksi korporasi yang mengurangi porsi pemegang saham minoritas atau keterlambatan transparansi laporan. UVCR mengonfirmasi rencana penerbitan 200 juta saham baru tanpa hak memesan efek dahulu yang seluruhnya mengalir ke pemegang saham pengendali, sehingga porsinya naik dari 623,5 juta menjadi 823,5 juta lembar sementara ROE turun 19,6 persen. HRTA memanggil RUPSLB pada 16 Oktober 2026 untuk meminta restu penerbitan saham dilusi hingga 10 persen, namun harga pelaksanaan dan calon pembelinya belum diungkap. Pola serupa terlihat dari sisi transparansi, DPNS dikenai sanksi Rp150 juta karena telat menyampaikan laporan keuangan untuk ketiga kalinya, dan IBOS baru akan mengesahkan laporan keuangan 2023 yang direvisi tiga tahun setelah periode itu berakhir. Sorotan bursa dan otoritas terhadap tata kelola emiten kecil ini tampak terus berulang, dan hasilnya akan mulai terlihat dari RUPSLB HRTA dan IBOS yang sama-sama dijadwalkan 16 Oktober 2026, saat pemegang saham independen menentukan menyetujui atau menolak rencana yang diajukan.

Yang paling menentukan besok adalah apakah Waskita Beton Precast benar menunda pembayaran kupon obligasinya, karena itu akan menegaskan apakah gagal bayar BUMN karya masih kasus tunggal atau mulai meluas.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →