Sabtu, 26 September 2026 · 02.59 WIB
IHSG 6.241,89 ▼0,90% USD/IDR 17.912 ▲0,42% Emas (spot) Rp2.471rb ▲1,12%
Signal Harian · edisi arsip

Tambang Pulih, WIKA Default, Kendali Emiten Berpindah Tangan

Jumat, 25 September 2026 · dirangkai dari 57 berita

Kinerja emiten tambang membaik di tengah gagal bayar sukuk WIKA yang makin dalam dan gelombang perpindahan kendali lewat tender offer di berbagai sektor mewarnai perdagangan Jumat, 25 September 2026, saat IHSG melemah 0,90 persen dan rupiah tertekan ke Rp17.912 per dolar AS.

01

Sektor Tambang Pulih, Dibiayai Ekspansi Utang

Kinerja emiten tambang menunjukkan pemulihan pada semester I dan awal semester II 2026. Laba bersih Merdeka Copper Gold melonjak 26 kali menjadi US$214,8 juta, sementara laba bersih Merdeka Battery Materials naik ke US$149,4 juta dengan pendapatan tembus US$1,05 miliar. Bayan Resources melaporkan tiga anak usahanya kembali beroperasi normal setelah RKAB disetujui pemerintah pada 23 September, mengakhiri periode force majeure. Pemulihan operasional ini turut tecermin pada penerimaan pajak Kalimantan Selatan yang tumbuh 29,72 persen menjadi Rp8,57 triliun, dengan sektor tambang menyumbang hampir seperempat dari total dan PPN dalam negeri melonjak 246,41 persen. Di balik laba yang membaik, liabilitas MDKA dan MBMA juga naik masing-masing 21,1 persen dan 27,9 persen untuk membiayai ekspansi, sehingga arahnya cukup jelas menuju fase ekspansi dibiayai utang setelah gangguan izin produksi awal tahun teratasi. Yang akan menegaskan arah ini adalah laporan keuangan kuartal III 2026, apakah kenaikan pendapatan tetap mengungguli beban bunga dari utang baru.

02

WIKA Default, Status Bursa Justru Membaik

Tekanan gagal bayar di tubuh BUMN Karya, yang menjadi benang utama edisi kemarin, berlanjut dengan eskalasi baru. PEFINDO resmi menurunkan peringkat dua seri Sukuk Mudharabah WIKA senilai Rp316 miliar dari idCCC(sy) menjadi idD(sy), status gagal bayar, menyusul tertundanya pembayaran bagi hasil yang jatuh tempo 18 September 2026. Bersamaan dengan itu, Bursa Efek Indonesia mencabut status pemantauan khusus dari 92 saham termasuk WSKT dan WIKA mulai 28 September, namun perubahan ini eksplisit disebabkan revisi kriteria Peraturan Bursa I-X, bukan perbaikan kinerja keuangan emiten. Dengan kata lain, status administratif WIKA di bursa membaik pada saat yang sama peringkat utangnya justru turun ke level default, dua sinyal yang bergerak berlawanan arah. Yang akan menentukan apakah tekanan ini mereda atau meluas adalah kemampuan WIKA melunasi atau merestrukturisasi bagi hasil sukuk yang tertunda dalam masa tenggang mendatang.

03

Kendali Emiten Berpindah lewat Tender Offer

Beberapa emiten lintas sektor tengah mengalami perpindahan kendali lewat tender offer atau rights issue ke investor strategis. Protelindo memperpanjang tender sukarela saham menara SUPR hingga 21 Oktober setelah 74,6 persen saham publik berpartisipasi, menyisakan 25 persen saham publik yang belum terserap. Digital Edge asal Hong Kong baru menyerap 4,8 persen atau 7,71 juta dari 159,6 juta saham publik Indointernet (EDGE) sejak Agustus. Ultrajaya (ULTJ) merinci jadwal rights issue yang akan mengalihkan kendali perusahaan ke FrieslandCampina, sementara rights issue Energi Mega Persada senilai Rp4,12 triliun dijamin penuh oleh Bakrie Kalila Investment dan Bakrie Capital Indonesia sebagai pembeli siaga, memperkuat kendali kelompok Bakrie. Pola serupa muncul di TRUK, tempat PT Pukul Rata Kanan menawar tender Rp740 per saham untuk mengincar kendali 30 persen. Arahnya cukup jelas menuju konsolidasi kepemilikan oleh investor strategis di berbagai sektor, dari menara telekomunikasi, data center, susu, migas, hingga logistik, dan yang akan menegaskan kecepatannya adalah hasil akhir masa tender SUPR pada 21 Oktober.

Yang paling menentukan besok adalah apakah WIKA merespons status gagal bayar sukuknya dengan langkah restrukturisasi konkret, karena itu akan jadi penanda apakah tekanan di BUMN Karya mereda atau merembet ke instrumen utang lain.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →