Jumat, 2 Oktober 2026 · 02.35 WIB
IHSG 6.009,50 ▼1,02% USD/IDR 17.932 Emas (spot) Rp2.409rb ▲1,61%
Signal Harian · edisi arsip

Pajak Digital Diperketat, Tekanan Bergeser ke Dapur dan Bursa

Kamis, 1 Oktober 2026 · dirangkai dari 78 berita

Hari ini negara memperluas cara memungut pajak digital lewat pihak ketiga, sementara data makro menunjukkan ekspor dan pariwisata tetap kuat di saat harga pangan dan pasar saham sama-sama menunjukkan tekanan.

01

Pajak Digital Dipungut Otomatis Lewat Pihak Ketiga

Mulai 25 September 2026, Ditjen Pajak memungut PPN atas transaksi digital luar negeri lewat enam bank dan fintek berdasarkan PMK Nomor 49 Tahun 2026, menutup celah transaksi yang lolos pajak karena platform asingnya tidak mendaftar sendiri. Hari ini giliran PPh Pasal 22 pedagang online mulai dipotong otomatis 0,5 persen dari nilai penjualan lewat empat marketplace, dipercepat sebulan dari jadwal semula 31 Oktober. Kedua kebijakan sama-sama tidak mengubah tarif, melainkan memindahkan tanggung jawab pemungutan dari wajib pajak atau penyedia layanan asing ke platform perantara yang lebih mudah diawasi pemerintah. Arahnya jelas menuju basis pajak digital yang terpungut otomatis dan lebih sulit dihindari. Yang akan menguatkan atau mematahkan pola ini adalah realisasi penerimaan pajak digital pada laporan APBN bulan berikutnya, yang menunjukkan apakah skema pemungutan lewat pihak ketiga ini benar-benar mendongkrak setoran dibanding cara lama.

02

Ekspor dan Pariwisata Kuat, Dapur Tertekan

PMI manufaktur melompat dari 49,8 ke 52,4, ekspor Agustus naik 6,72 persen jadi US$26,61 miliar dengan manufaktur tumbuh 12,48 persen, dan surplus dagang melonjak ke US$3,55 miliar dari cuma US$0,12 miliar sebulan sebelumnya, sementara kunjungan wisatawan asing naik enam bulan beruntun ke 1,60 juta orang. Namun di saat sama, harga cabai, ayam, dan telur naik lebih cepat dari 0,88 persen menjadi 1,46 persen meski inflasi tahunan masih terkendali di 3,28 persen, dan okupansi hotel bintang turun dari 54,54 persen ke 52,52 persen, mengakhiri kenaikan lima bulan beruntun. Jumlah penumpang kereta api juga turun 7,29 persen dibanding Juli. Polanya mengarah ke indikator yang berorientasi luar negeri, yaitu ekspor, manufaktur, dan wisman, tetap kuat, sementara tekanan di belanja harian dan mobilitas domestik mulai terlihat di harga pangan dan okupansi hotel. Yang perlu dicermati adalah data inflasi dan penjualan eceran Oktober dari Bank Indonesia, untuk melihat apakah tekanan pangan ini mereda atau menjalar lebih jauh.

03

Tekanan Jual Meluas di Bursa, Mekanisme Darurat Diaktifkan

IHSG melemah 1,02 persen hari ini sementara harga emas naik 1,61 persen, dan setidaknya sepuluh emiten, termasuk BMTR, BHIT, IFSH, MSIN, SOSS, BSWD, UNSP, BTEK, TRIN, dan IKAI, diminta bursa menjelaskan volatilitas transaksi sahamnya dalam beberapa hari terakhir, dengan ADMF turun 4,9 persen bersamaan lepasnya 4,53 persen saham pengendali di pasar negosiasi. Garuda Indonesia masuk daftar pemantauan khusus bursa mulai 2 Oktober karena ekuitas negatif, melanjutkan sorotan tata kelola yang kemarin menyasar dilusi saham bank dan maskapai, sementara DOOH menyiapkan rights issue dengan dilusi hingga 95,24 persen dan pinjaman Rp5 triliun dari pengendali, setara 1.615 persen ekuitasnya, untuk akuisisi saham INET. Di sisi lain, AALI dan UNTR membuka buyback senilai Rp400 miliar dan Rp2 triliun memakai aturan OJK khusus pasar bergejolak. Arahnya mengarah ke tekanan jual yang meluas dan direspons dengan mekanisme defensif oleh emiten besar maupun regulator. Penanda penguatan atau redanya tekanan ini adalah pergerakan IHSG dan realisasi buyback pada pekan pertama Oktober.

Yang paling menentukan arah besok adalah apakah pelemahan IHSG hari ini berlanjut atau mereda seiring mulai berjalannya buyback UNTR dan AALI, serta apakah tekanan harga pangan jelang Oktober mulai tercermin di data inflasi berikutnya.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →