Rabu, 21 Oktober 2026 · 02.58 WIB
IHSG 5.278,89 ▲5,65% USD/IDR 17.943 ▼0,63% Emas (spot) Rp2.378rb ▼1,10%
Signal Harian · edisi arsip

IHSG Melesat, Aturan Bursa Dirombak, Dilusi Publik Menumpuk

Selasa, 20 Oktober 2026 · dirangkai dari 78 berita

IHSG melonjak 5,65 persen setelah BEI merombak aturan main saham, tapi di hari yang sama sejumlah emiten kecil dan menengah menambah modal tanpa memberi hak kepada pemegang saham lama, sementara beberapa lainnya masih bergelut dengan gagal bayar dan suspensi berkepanjangan.

01

Bursa Menata Ulang Saham Terkonsentrasi, IHSG Melesat

IHSG melonjak 5,65 persen ke 5.278,89, didorong kombinasi aksi buyback emiten yang sudah ramai sejak kemarin dan langkah konkret regulator: BEI melonggarkan batas auto rejection bawah menjadi 7 persen, mewajibkan label keterbukaan bagi pemegang saham terafiliasi dengan kepemilikan minimal 1 persen, serta mengeluarkan 80 saham dengan kepemilikan terlalu terpusat yang selama ini menyumbang 18 persen bobot indeks. Saham TFCO jadi contoh konkret jenis saham yang disasar, dengan 99,70 persen sahamnya dikuasai segelintir pihak per 15 Oktober, menyisakan saham beredar bebas yang sangat tipis. Di hari yang sama, rentetan laporan menunjukkan direksi dan pemegang saham di beberapa emiten lain, antara lain Saranacentral Bajatama, RLCO, BOBA, dan FILM, melepas atau mencairkan saham lewat mekanisme repurchase agreement yang mengubah hak suara tanpa memindahkan kepemilikan ekonomisnya. BTN pun ikut mempertimbangkan opsi buyback, melanjutkan pola lima emiten besar yang sudah mengumumkan buyback Rp4,6 triliun kemarin. Arahnya sudah mengarah pada penataan struktur kepemilikan saham yang lebih transparan, dan yang akan menguatkan atau mematahkannya adalah daftar resmi lengkap saham HSC yang dikeluarkan serta apakah pola transaksi repo semacam ini mereda setelah aturan baru berjalan penuh.

02

Gelombang Dilusi Lewat Rights Issue Tanpa HMETD

Setidaknya enam emiten menambah modal tanpa memberi hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham lama pada hari yang berdekatan. VISI menerbitkan 120,7 juta saham baru senilai Rp120 miliar yang menggerus porsi publik dari 19,99 persen menjadi 19,24 persen, APEX mencatatkan 218,09 juta saham baru yang mendilusi pemegang lama 6,15 persen meski membawa dana segar Rp70,88 miliar, dan EMAS berencana menambah modal hingga 10 persen dari modal disetor. NAYZ bahkan akan membiayai akuisisi 20 persen saham Bangkok Tellink senilai Rp448,3 miliar lewat rights issue, padahal kas perusahaan per Juni 2026 hanya Rp6,1 miliar. Pola serupa terjadi di LOPI, yang pemegang sahamnya baru menyetujui skema ini dengan kuorum kehadiran hanya 24,47 persen, dan GMFI yang menggelar rights issue kedua dalam kurang dari setahun sementara skema pemenuhan saham beredar bebasnya belum final meski sudah dua kali ditanyakan bursa. Arahnya mengarah pada porsi kepemilikan publik yang kian tergerus di emiten-emiten ini, dan penentunya adalah harga pelaksanaan serta tingkat partisipasi pemegang saham publik begitu masing-masing rights issue ini resmi digelar.

03

Tunggakan dan Suspensi Emiten Kecil Menumpuk

Di luar soal dilusi, sejumlah emiten kecil menunjukkan tekanan arus kas yang sudah berlangsung lama. Pos Indonesia harus menggelar rapat pemegang obligasi dan sukuk pada 17 November setelah gagal membayar bunga obligasi untuk ke-15 kalinya serta imbalan ijarah dua sukuk untuk ke-7 dan ke-5 kalinya. BOSS masih menyandang status suspensi lebih dari dua tahun tanpa pendapatan sama sekali sepanjang 2025, dengan satu anak usahanya berstatus pailit. CPRI baru akan menggelar RUPS Tahunan untuk tahun buku 2022 pada akhir November 2026, hampir empat tahun setelah periode laporan itu berakhir. Ketiganya menunjukkan pola yang sama, masalah keuangan yang dibiarkan berlarut tanpa penyelesaian cepat, bukan kendala sesaat. Yang akan menentukan arah selanjutnya adalah hasil rapat kreditur Pos Indonesia pada 17 November, karena skema penyelesaian yang disepakati di sana bisa jadi acuan bagi emiten lain dengan masalah serupa.

Yang paling menentukan besok adalah apakah penataan aturan bursa hari ini benar-benar meredakan konsentrasi kepemilikan dan transaksi semu, atau pasar kembali disibukkan oleh deretan rights issue dan tunggakan utang emiten kecil yang belum tuntas.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →