Rabu, 30 September 2026 · 04.35 WIB
IHSG 6.121,70 ▼0,43% USD/IDR 17.993 ▲0,24% Emas (spot) Rp2.420rb
Signal Harian · edisi arsip

Tekanan Kredit BUMN Karya Berlanjut, Dilusi Saham Meluas

Selasa, 29 September 2026 · dirangkai dari 84 berita

Penurunan peringkat Waskita Karya dan sengketa bunga obligasi PTPP melanjutkan pola tekanan kredit yang sempat muncul lewat gagal bayar WIKA pekan lalu, sementara sejumlah emiten memilih menambah modal lewat rights issue dan pemerintah menyiapkan belanja besar untuk mengejar pertumbuhan 2027.

01

Tekanan Kredit BUMN Karya Berlanjut

Tekanan kredit yang muncul pada WIKA pekan lalu tampak berlanjut sebagai pola di sektor BUMN karya, kali ini menyentuh Waskita Karya dan PTPP. PEFINDO menurunkan peringkat korporasi Waskita Karya dari idB ke idCCC dengan status pengawasan negatif menyusul gagal bayar obligasi, sementara PTPP masih belum mendapat restu pemegang obligasi untuk menunda bunga enam instrumen senilai Rp44,68 miliar yang jatuh tempo awal Oktober. Di kelompok emiten lebih kecil, ekuitas Terregra Asia Energy anjlok 83 persen menjadi Rp51,4 miliar setelah rugi Rp259,5 miliar, dan ekuitas KB Finansia Multi Finance susut 85 persen menjadi Rp18,8 miliar, menunjukkan bantalan modal yang menipis di berbagai lapisan pasar. Arahnya sudah cukup jelas ke pelemahan kualitas kredit korporasi, terutama di sektor konstruksi BUMN. Yang akan menegaskan atau membalikkan arah ini adalah apakah PTPP mendapat restu pemegang obligasi sebelum jatuh tempo pertama pada 2 Oktober.

02

Gelombang Rights Issue Perbesar Dilusi

Pekan ini pasar saham diramaikan aksi penambahan modal lewat rights issue di berbagai sektor. VKTR memastikan penerbitan hingga Rp3 triliun dengan dilusi 25,53 persen, ENRG tengah memproses rights issue Rp4,12 triliun yang bisa mendilusi saham hingga 33,33 persen, sementara PART menyiapkan Rp200 miliar dan CSIS baru mengantongi Rp177,4 miliar meski laba bersihnya justru turun 16 persen. Pola ini menunjukkan banyak emiten memilih menambah modal lewat penerbitan saham baru ketimbang utang baru, sehingga pemegang saham lama di sejumlah sektor berhadapan dengan penyusutan porsi kepemilikan dalam waktu berdekatan. Arah pelemahan porsi kepemilikan minoritas ini kemungkinan berlanjut, mengingat proses VKTR dan ENRG masih berjalan. Yang akan menegaskan besarnya dampak adalah hasil penyerapan publik pada rights issue VKTR, karena BCI dan BIS baru berperan sebagai pembeli siaga untuk porsi yang tidak terserap.

03

Anggaran dan Energi Disiapkan untuk 2027

Beberapa sinyal kebijakan hari ini mengarah ke satu agenda yang sama, mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 5 menuju 6 persen pada 2027, sejalan dengan data resmi pertumbuhan triwulan II 2026 yang naik ke 5,29 persen. Pemerintah dan Banggar DPR menaikkan belanja negara 2027 menjadi Rp4.106,26 triliun namun menjaga defisit tetap di 2,4 persen dengan menaikkan target pendapatan senilai sama, sementara Menko Airlangga menyebut kebutuhan investasi lebih dari Rp2.200 triliun dan tambahan kapasitas pembangkit hingga 100 gigawatt menyusul proyeksi kebutuhan listrik 2030 tembus 700-800 TWh, jauh di atas rencana 69,5 gigawatt yang berlaku sekarang. Di jalur dagang, Indonesia mempercepat persiapan perundingan CEPA dengan Tiongkok dan DEN memproyeksikan IEU-CEPA bisa menghapus selisih tarif 10 persen dengan Vietnam di pasar Eropa tahun depan, meski keduanya baru sebatas kesepakatan mempercepat proses tanpa jadwal putaran atau tanggal berlaku yang pasti. Yang akan menegaskan keseriusan agenda ini adalah revisi RUPTL yang dijanjikan menyesuaikan proyeksi 700-800 TWh tersebut.

Yang paling menentukan arah besok adalah apakah PTPP mendapat restu pemegang obligasi sebelum jatuh tempo 2 Oktober, serta seberapa besar publik menyerap rights issue VKTR.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →