Tekanan utang korporasi melebar, ULN pemerintah naik
Utang luar negeri Indonesia naik jadi US$454,8 miliar pada Juli 2026, ditopang penerbitan surat utang pemerintah, sementara swasta di industri pengolahan, jasa keuangan, listrik gas, dan tambang justru mengurangi pinjaman luar negeri, menurut data Bank Indonesia. Di saat yang sama, PEFINDO memangkas peringkat hampir seluruh obligasi subordinasi dan surat berharga perpetual Bank BJB senilai total sekitar Rp5,7 triliun, turun satu tingkat sekaligus ke idAA-. Dua emiten lain menunjukkan pola serupa: Apexindo Pratama Duta akan menerbitkan 218,09 juta saham baru untuk melunasi utang ke kreditor, bukan dengan kas tunai, sementara pemegang saham Bank Mayapada, Jonathan Tahir, melepas 523,36 juta saham atau 33,93 persen dari kepemilikannya untuk melunasi utang pribadi. Pola ini melanjutkan sorotan hari sebelumnya soal tekanan kredit korporasi yang melebar, dengan swasta menahan diri menambah pinjaman baru sementara yang sudah terbebani utang memilih melepas saham atau aset ketimbang kas. Yang akan menegaskan arah ini adalah data ULN Agustus dari Bank Indonesia dan langkah lembaga pemeringkat lain terhadap obligasi korporasi dalam beberapa pekan mendatang.