Kamis, 24 September 2026 · 05.55 WIB
IHSG 6.374,91 ▼0,15% USD/IDR 17.798 ▼0,27% Emas (spot) Rp2.455rb ▼0,28%
Signal Harian · edisi arsip

Pasar Tertekan Jelang RDG BI, Restrukturisasi Karya Berlanjut

Senin, 21 September 2026 · dirangkai dari 92 berita

Rupiah dan IHSG tertekan menjelang keputusan suku bunga BI pekan ini, sementara penyelesaian gagal bayar BUMN Karya mengikuti pola restrukturisasi yang sama dan sektor tambang-migas menikmati laba besar di tengah kendali negara yang makin ketat atas ekspor komoditas.

01

Rupiah dan IHSG Tertekan Jelang Keputusan BI

Rupiah tertekan beruntun, sempat melemah ke Rp17.847 per dolar AS akibat harga minyak dunia di atas US$100 per barel karena gejolak Timur Tengah, kebutuhan dolar importir, dan dana asing yang keluar dari saham serta obligasi, lalu sempat pula melemah ke Rp17.783 usai The Fed menaikkan suku bunga ke 3,75-4,0 persen, sebelum berada di Rp17.808 hari ini. IHSG ikut melemah 0,88 persen ke 6.384,72 hari ini, dengan 354 saham turun berbanding 280 saham naik dan nilai transaksi Rp11,77 triliun, investor menahan diri menjelang keputusan suku bunga BI pekan ini. Di saat sama, rasio kredit terhadap simpanan perbankan naik ke 88,38 persen pada Juli 2026, tanda bantalan likuiditas bank kian menipis meski OJK menyebut secara industri belum mengkhawatirkan. Pelaku pasar condong memperkirakan BI menahan suku bunga acuan pekan ini meski tekanan eksternal berlanjut, dan yang akan menguatkan atau mematahkan arah ini adalah hasil resmi Rapat Dewan Gubernur BI pekan ini.

02

Restrukturisasi Utang BUMN Karya Berlanjut

Waskita Karya resmi mengefektifkan restrukturisasi obligasi Seri B per 17 September 2026, kupon turun dari 9,75 persen menjadi 5 persen dan jatuh tempo mundur dari Mei 2024 ke Desember 2034. Wijaya Karya, yang sebelumnya dilaporkan gagal bayar, kini menjadwalkan empat rapat pemegang utang dalam sepekan: RUPSU Sukuk Mudharabah Tahap I 2021 dan RUPO Obligasi Berkelanjutan II Tahap I 2021 pada 19 Oktober, RUPO Obligasi Berkelanjutan II Tahap II 2022 pada 20 Oktober, serta RUPSU Sukuk Mudharabah Tahap I 2022 pada 21 Oktober. Pola penyelesaian gagal bayar di BUMN Karya tampak mengikuti jejak yang sama, yaitu perpanjangan tenor dan pemotongan kupon seperti yang sudah dijalani Waskita. Yang akan mengonfirmasi arah ini adalah hasil rapat-rapat pemegang utang WIKA pada 19 sampai 21 Oktober.

03

Laba Tambang-Migas Tinggi, Negara Perketat Ekspor

MedcoEnergi mencatat laba bersih US$287,6 juta pada semester I 2026, melonjak dari US$36,1 juta setahun sebelumnya, ditopang produksi migas dan kontribusi Amman Mineral. Amman Mineral sendiri membukukan laba bersih US$504 juta pada semester I 2026, dengan penjualan bersih US$2,05 miliar dan utang bersih turun 13 persen menjadi US$5,03 miliar, sementara Baramulti Suksessarana membagikan dividen interim US$60 juta, hampir setara seluruh laba bersih semester pertamanya yang tercatat US$63 juta. Bersamaan dengan windfall itu, Kementerian ESDM menata ulang tata kelola batu bara dan nikel lewat bursa komoditas domestik BMKS dan ekspor satu pintu melalui Danantara SDI, dengan penerimaan negara kini jadi ukuran utama dibanding volume produksi. Arahnya, negara memperbesar kendali atas rente dari windfall sektor tambang dan migas ini, dan yang akan menguatkan arah tersebut adalah realisasi transaksi pertama lewat BMKS serta volume ekspor yang benar-benar melalui skema satu pintu Danantara SDI.

Yang paling menentukan arah besok adalah hasil Rapat Dewan Gubernur BI pekan ini, karena akan memengaruhi tekanan rupiah dan IHSG sekaligus ruang gerak perbankan yang bantalan likuiditasnya kian menipis.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →