Kamis, 24 September 2026 · 05.55 WIB
IHSG 6.374,91 ▼0,15% USD/IDR 17.798 ▼0,27% Emas (spot) Rp2.455rb ▼0,28%
Signal Harian · edisi arsip

Rupiah Tertekan Meski BI Tahan Bunga, Utang BUMN Karya Kian Berat

Rabu, 23 September 2026 · dirangkai dari 73 berita

Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di tengah rupiah yang masih tertekan dan asing yang terus keluar dari pasar saham, sementara dua emiten konstruksi pelat merah menghadapi tekanan pembayaran utang dan pemerintah mempercepat sejumlah perjanjian dagang untuk mengejar target pertumbuhan 6 persen pada 2027.

01

Rupiah dan Pasar Saham Tertekan Meski Bunga Ditahan

Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, memilih menahan bunga sembari memperluas insentif menjaga rupiah, di tengah inflasi tahunan Agustus yang naik ke 3,19 persen dan kenaikan bunga acuan Amerika Serikat yang membuat rupiah sempat melemah 0,78 persen ke Rp17.855 per dolar AS. Tekanan serupa terlihat di pasar saham, investor asing mencatat penjualan bersih Rp335,80 miliar pada sesi pertama perdagangan Rabu, meski IHSG sempat menguat 0,64 persen ke 6.317,46 ditopang pembelian domestik sebelum berakhir di kisaran 6.374,91, turun tipis 0,15 persen. Arah yang terlihat adalah tekanan eksternal terhadap rupiah dan keluarnya dana asing masih berlanjut, sementara Bank Indonesia memilih instrumen non-bunga ketimbang menaikkan BI-Rate untuk meredamnya. Yang akan menegaskan apakah tekanan ini mereda atau menetap adalah data aliran modal asing pekan berikutnya dan arah suku bunga The Fed selanjutnya.

02

Utang Jatuh Tempo Kian Berat bagi BUMN Karya

Dua emiten konstruksi pelat merah sama-sama menghadapi tekanan pembayaran utang dalam sepekan terakhir. Waskita Karya gagal melunasi pokok Obligasi III 2021 Seri A senilai Rp722 miliar yang jatuh tempo 24 September 2026, sehingga wali amanat mengajukan klaim penjaminan. PTPP memperoleh persetujuan RUPO untuk menunda pembayaran bunga obligasi senilai Rp11,1 miliar hingga 2027 tanpa denda, sehingga tidak lagi wajib membayar pada 25 September 2026. Tekanan serupa juga terlihat di luar BUMN karya, Apexindo mengonversi utang US$4,1 juta kepada sindikasi kreditur asing menjadi saham baru setelah tenggat pembayarannya diperpanjang tiga kali sejak Mei 2026. Polanya konsisten, yaitu kas jangka pendek yang tidak cukup memenuhi jadwal kewajiban di lebih dari satu perusahaan. Yang akan menunjukkan apakah tekanan ini mereda adalah hasil klaim penjaminan obligasi Waskita dan realisasi pembayaran PTPP setelah tenggat baru di 2027.

03

Pemerintah Pacu Perjanjian Dagang Kejar Target Pertumbuhan

Indonesia mendorong dua perundingan dagang mendekati tenggat sekaligus, reviu perjanjian ASEAN-India atau AITIGA ditargetkan rampung tahun ini, dan perundingan FTA ASEAN-Kanada digadang tuntas sebelum KTT ASEAN awal November 2026. Dorongan ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 yang disampaikan Menko Airlangga, yang mengandalkan antara lain 25 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan, naik dari realisasi pertumbuhan 5,45 persen pada semester I 2026. Data lapangan turut menunjukkan arah yang sama, trafik Pelabuhan Pelindo Regional 2 naik di semua indikator sepanjang Januari-Agustus 2026 dibanding periode sama tahun lalu, dengan arus peti kemas naik 3,7 persen dan barang curah naik 10 persen. Arahnya jelas, pemerintah menumpuk lebih banyak akses pasar dagang sebagai salah satu tumpuan mengejar target pertumbuhan yang lebih tinggi. Yang akan menegaskan langkah ini adalah apakah reviu AITIGA benar rampung akhir 2026 dan apakah perundingan FTA Kanada tuntas sebelum KTT ASEAN awal November.

Yang paling menentukan arah besok adalah bagaimana pasar merespons keputusan BI menahan bunga saat pembukaan perdagangan, serta apakah wali amanat Waskita mulai bergerak mengeksekusi klaim penjaminan atas obligasi yang gagal dibayar.

Artikel yang dirangkum edisi ini

Buka edisi terbaru →